PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sri Ani Rintuh, mengingatkan masyarakat akan bahaya penyebaran paham ekstremisme di ruang digital yang kian mengkhawatirkan, khususnya bagi anak-anak.

Ia menilai, ruang digital yang semestinya menjadi sarana belajar dan komunikasi positif, kini kerap dimanfaatkan sebagai media penyebaran ideologi ekstrem yang berpotensi merusak pola pikir serta perkembangan generasi muda.

Menurut Sri Ani, ancaman ekstremisme digital tidak hanya berdampak pada kesehatan mental anak, tetapi juga berisiko mengganggu stabilitas sosial dan keamanan masyarakat secara luas.

“Sekolah memiliki peran krusial dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme di kalangan pelajar. Tidak hanya pendidikan akademik, tetapi juga penanaman nilai toleransi, saling menghormati, dan pemahaman antar kelompok,” ujarnya, Jumat, 9 Januari 2026.

Ia juga mendorong deteksi dini terhadap gejala radikalisasi, seperti perubahan perilaku yang drastis, penggunaan bahasa kasar dan ekstrem, hingga ketertarikan berlebihan pada konten politik atau keagamaan yang mengandung ujaran kebencian.

“Tanggung jawab mencegah anak terjerumus dalam paham ekstremisme tidak hanya berada di tangan pemerintah dan sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat,” tambahnya.

Sri Ani mengimbau orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas anak di dunia maya, membangun komunikasi terbuka terkait konten yang dikonsumsi anak, serta menyediakan ruang pengembangan diri yang positif melalui kegiatan olahraga, seni, maupun komunitas kreatif.

Selain itu, peran masyarakat dalam membangun lingkungan yang inklusif dan menghargai perbedaan dinilai penting untuk mencegah tumbuhnya ideologi ekstrem.

Ia menambahkan, pesatnya perkembangan teknologi membuat kelompok ekstremis terus beradaptasi dengan berbagai cara baru untuk menyebarkan pengaruh mereka.

“Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, perusahaan teknologi, sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan positif bagi anak-anak. Tanpa upaya serius dan terpadu, ancaman ekstremisme akan terus membayangi masa depan generasi muda,” pungkasnya. (MARINI/j)