BORNEONEWS, Sampit – Manyipet atau menyumpit merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak yang sarat nilai budaya dan sejarah. Tradisi berburu menggunakan sumpit ini diharapkan terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui ajang Festival Budaya Habaring Hurung di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
“Saya ikut event ini, yang pertama tentu untuk melestarikan kebudayaan Dayak lewat festival budaya, khususnya cabang lomba manyipet, supaya kebudayaan kita tidak hilang. Saya sendiri hanya manyipet saat ada event lomba seperti ini,” ujar salah satu peserta lomba manyipet Lilis, Jumat, 9 Januari 2026.
Manyipet menjadi salah satu cabang lomba yang dilaksanakan pada Festival Budaya Habaring Hurung Kotim. Kegiatan tersebut digelar di halaman voli indoor Stadion 29 Nopember Sampit.
Lilis mengungkapkan, cabang lomba manyipet sudah cukup lama tidak dipertandingkan, sehingga dirinya tidak sempat berlatih secara rutin. Meski begitu, semangat untuk menjaga agar lomba ini tetap ada membuatnya tetap turun berpartisipasi.
“Keinginan kami supaya lomba ini tidak hilang, makanya tetap ikut event ini. Manyipet ini tidak harus keturunan Dayak, yang penting ada keinginan dari diri sendiri untuk melestarikan budaya,” tambahnya.
Peserta lomba manyipet tidak hanya berasal dari suku Dayak, tetapi juga dari berbagai latar belakang, termasuk dari Jawa dan daerah lainnya. Ia sendiri telah menekuni manyipet sejak tahun 2003 dan kerap mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang.
“Sudah sering mewakili Kotim di Festival Budaya Isen Mulang cabang manyipet, tapi dua tahun terakhir Kotim tidak mengirim peserta cabang lomba ini,” tandasnya.
Sementara itu, Koordinator Cabang Lomba Manyipet Festival Budaya Habaring Hurung, Apriyanto N Sawung, menyebutkan jumlah peserta lomba tahun ini terdiri dari 20 peserta putra dan 9 peserta putri. Penilaian dilakukan berdasarkan perolehan skor tertinggi.
“Peserta berasal dari beberapa kecamatan, yang paling banyak dari Kecamatan Telaga Antang,” ujar Apriyanto.
Ia menilai minat masyarakat terhadap lomba manyipet sebenarnya cukup tinggi. Namun, karena persiapan kegiatan yang terbilang mendadak, jumlah peserta belum maksimal.
Apriyanto menjelaskan, manyipet pada zaman dahulu merupakan alat berburu masyarakat Dayak. Di wilayah hulu disebutnya hingga kini masih menggunakan sumpit atau sipet untuk berburu.
“Di daerah hulu masih banyak masyarakat yang menggunakan manyipet untuk berburu, kalau wilayah kota mungkin kurang. Tetapi untuk perlombaan peminatnya banyak wilayah kota,” imbuhnya.
Ia berharap kegiatan seperti Festival Budaya Habaring Hurung terus digelar secara berkelanjutan agar tradisi manyipet tetap lestari. Bahkan, ia mendorong agar pengenalan budaya Dayak dilakukan sejak dini melalui dunia pendidikan.
“Kalau bisa sejak sekolah, budaya seperti manyipet ini dijadikan kegiatan ekstrakurikuler, supaya generasi muda mengenal dan mencintai budaya daerahnya,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









