BORNEONEWS, Sampit – Cabang lomba Lawang Sakepeng dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) 2025 berlangsung semarak. Sebanyak 27 regu ambil bagian dalam ajang yang digelar di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit tersebut.
Koordinator lomba Lawang Sakepeng, Agus Sanang, menyampaikan bahwa jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kecamatan, perguruan silat, sanggar seni, hingga sekolah-sekolah di Kotim.
“Total ada 27 regu yang ikut serta, terdiri dari 17 regu putra dan 10 regu putri. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, semakin tinggi,” ujar Agus Sanang, Jumat, 9 Januari 2026.
Ia menilai dominasi peserta usia muda menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan Lawang Sakepeng sebagai salah satu identitas budaya Dayak yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Dalam perlombaan tersebut, dewan juri menilai sejumlah aspek, antara lain variasi gerakan, ketangkasan, kekompakan, durasi penampilan antara lima hingga tujuh menit, kostum, serta kemantapan gerak.
“Semua unsur itu menjadi indikator penilaian agar peserta benar-benar menampilkan Lawang Sakepeng sesuai pakem dan nilai estetikanya,” tambahnya.
Lanjutnya, regu putra dan putri yang keluar sebagai juara pertama akan mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) tahun 2026. Para pemenang akan mendapatkan pembinaan lanjutan sesuai petunjuk teknis dari tingkat provinsi.
“Prestasi Kotim di tingkat provinsi cukup konsisten. Cabang Lawang Sakepeng hampir selalu meraih juara. Bahkan pada 2018 lalu, baik putra maupun putri sama-sama meraih juara pertama,” ungkapnya.
Agus menjelaskan, Lawang Sakepeng memiliki akar sejarah yang kuat. Gerakannya terinspirasi dari tiruan gerak hewan beruk yang kemudian dikembangkan menjadi seni silat khas Dayak Kalimantan Tengah.
“Awalnya meniru gerak beruk, lalu dikemas menjadi seni bela diri yang sarat makna dan sampai sekarang masih lestari,” katanya.
Selain sebagai pertunjukan seni, Lawang Sakepeng kerap ditampilkan dalam prosesi adat, seperti pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan. Ritual ini berfungsi sebagai prosesi pembuka sebelum memasuki suatu wilayah atau acara.
Dalam simbolismenya, Lawang Sakepeng dimaknai sebagai pintu adat yang harus dilewati tamu. Pesilat akan memutus benang yang terpasang di gapura kayu, sebagai lambang memutus pengaruh buruk, kesialan, atau hal negatif dari luar.
Gapura Lawang Sakepeng sendiri dihiasi ukiran khas Dayak, seperti motif burung enggang dan tanaman rambat. Tiga benang yang direntangkan melambangkan bahaya, hubungan buruk, dan maut, yang kemudian diputus melalui rangkaian gerak silat diiringi musik tradisional.
Terkait pelestarian, Agus Sanang menyebut pembinaan Lawang Sakepeng di Kotim dilakukan secara berjenjang melalui sanggar seni, sekolah, kecamatan, hingga perguruan pencak silat. Ia optimistis minat terhadap kesenian ini akan terus meningkat.
“Dari tahun ke tahun hingga menuju 2026, peminatnya justru semakin banyak. Ini terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar pada FBHH kali ini,” tuturnya.
Sementara itu, Rafli, salah satu peserta asal Kecamatan Cempaga, mengaku puas dengan penampilannya setelah menjalani latihan intensif selama sepekan terakhir. Ia yang telah menekuni Lawang Sakepeng sejak awal 2025 merasa optimistis bisa meraih hasil terbaik.
“Selain lomba, saya juga sering tampil di acara pernikahan. Sudah puluhan kali atraksi. Soal juara tentu berharap, tapi tetap tergantung penilaian juri,” pungkas Rafli. (DEWI PATMALASARI/j)









