BORNEONEWS, Sampit - Lawang Sakepeng merupakan warisan budaya Suku Dayak Ngaju yang sarat makna. Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol penyambutan tamu sekaligus penjaga nilai-nilai adat yang terus dilestarikan hingga kini.
Salah satu sosok pelestari budaya Lawang Sakepeng Agus Sanang menjelaskan, seni ini memiliki akar sejarah yang kuat. Setiap gerakan dalam Lawang Sakepeng terinspirasi dari perilaku hewan beruk, yang kemudian diolah dan dikembangkan menjadi rangkaian jurus silat bernilai seni tinggi.
“Gerakannya berasal dari meniru gerak hewan beruk. Dari situ dikembangkan menjadi seni silat yang luar biasa dan masih bertahan di tengah masyarakat Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah,” kata Agus Sanang, Sabtu, 10 Januari 2026.
Ia menuturkan, Lawang Sakepeng kerap ditampilkan dalam berbagai prosesi adat, mulai dari upacara pernikahan hingga penyambutan tamu kehormatan. Kesenian ini berfungsi sebagai ritual pembuka sebelum seseorang memasuki suatu wilayah atau acara adat.
Lawang Sakepeng memiliki filosofi mendalam sebagai simbol gerbang adat. Dalam prosesi tersebut, pesilat memotong benang yang direntangkan di sebuah gapura kayu. Tindakan ini melambangkan pemutusan pengaruh buruk atau energi negatif yang dibawa dari luar.
“Maknanya, tamu yang datang seolah dihadang pintu adat. Setelah prosesi Lawang Sakepeng dilalui, diharapkan semua hal negatif, kesialan, atau niat tidak baik dapat terputus,” ujarnya.
Secara visual, Lawang Sakepeng ditandai dengan gapura kayu yang dihiasi ukiran khas Dayak, seperti motif burung enggang dan tanaman rambat. Tiga benang yang melintang di gapura melambangkan bahaya, hubungan yang tidak baik, dan maut, yang kemudian diputus melalui gerakan silat yang diiringi musik tradisional.
Dalam upaya pelestarian, Agus Sanang menyebut pembinaan Lawang Sakepeng di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilakukan melalui berbagai jalur. Mulai dari sanggar seni yang dibina para tokoh budaya, sanggar di sekolah dan kecamatan, hingga perguruan pencak silat.
Ia menilai, minat masyarakat terhadap Lawang Sakepeng terus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang mengikuti lomba Lawang Sakepeng dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) tahun 2026. Tahun ini sebanyak 27 regu memeriahkan festival budaya yang digelar bertepatan HUT ke-73 Kotim di Stadion 29 Nopember Sampit.
“Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, minat tahun ini justru meningkat. Jumlah pecinta dan peserta yang mendaftar lebih banyak dari tahun lalu,” pungkas Agus Sanang.
Peningkatan partisipasi ini menjadi sinyal positif bahwa Lawang Sakepeng sebagai identitas budaya Dayak masih diminati generasi muda dan memiliki peluang besar untuk terus lestari di tengah perkembangan zaman. (DEWI PATMALASARI/j)









