BORNEONEWS, Sampit – Mangaruhi merupakan tradisi menangkap ikan khas masyarakat Suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini biasanya dilakukan saat musim kemarau, ketika debit air sungai mulai menyusut. Sebagai upaya menjaga keberlanjutannya, mangaruhi kini dikemas dalam bentuk perlombaan dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Tak sekadar tradisi, mangaruhi juga mengandung pesan kuat tentang pelestarian lingkungan. Cara menangkap ikan dilakukan secara alami, tanpa alat bantu, sehingga tidak merusak ekosistem perairan. Nilai kearifan lokal inilah yang menjadi inti dari tradisi tersebut.
"Zaman dulu, masyarakat Dayak menangkap ikan hanya seperlunya, tanpa merusak habitat. Tidak menggunakan alat apa pun yang bisa merusak lingkungan, jadi alam tetap terjaga," ujar Koordinator Lomba Mangaruhi, Anton Sumaryanto, Sabtu, 10 Januari 2025.
Lomba mangaruhi atau menangkap ikan dengan tangan kosong ini digelar dalam rangka memeriahkan FBHH Kotim. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotim.
Anton menjelaskan, mangaruhi merupakan praktik tradisional masyarakat Dayak yang dilakukan saat air sungai surut. Kini, tradisi itu dihadirkan kembali dalam bentuk lomba agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.
"Tahun ini kita lestarikan lewat perlombaan. Intinya tetap sama, menangkap ikan dengan tangan kosong tanpa alat bantu," katanya.
Pada FBHH 2026, lomba mangaruhi diikuti sebanyak 34 tim, terdiri dari 23 tim putri dan 11 tim putra, dengan masing-masing tim beranggotakan dua orang. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, hingga perwakilan kecamatan.
"Antusiasme peserta cukup tinggi dan tahun ini justru didominasi tim putri. Jumlah peserta juga meningkat dibandingkan tahun lalu," tambahnya.
Dalam perlombaan tersebut, panitia melepas sekitar 30 kilogram atau kurang lebih 200 ekor ikan lele ke dalam kolam terpal berukuran 6x8 meter. Para peserta ditantang menangkap ikan yang licin dan lincah hanya dengan tangan, tanpa bantuan alat apa pun.
Sepanjang lomba, suasana berlangsung semarak. Sorak sorai penonton terus mengiringi jalannya pertandingan, terutama saat tim yang didukung berhasil menangkap ikan. Kemeriahan ini menjadikan lomba mangaruhi tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga hiburan rakyat yang sarat nilai budaya.
Penentuan juara dilakukan berdasarkan jumlah ikan yang berhasil ditangkap setiap tim, tanpa memperhitungkan bobot ikan.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap tradisi mangaruhi dapat terus dilestarikan dan dikenal lebih luas oleh masyarakat. Selain menjaga warisan budaya Dayak, mangaruhi juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
"Lewat mangaruhi, kita ingin generasi muda mengenal budaya leluhur sekaligus belajar mencintai dan menjaga lingkungan," pungkas Anton. (DEWI PATMALASARI/y)









