BORNEONEWS, Palangka Raya - Palangka Raya sedang menghadapi situasi memprihatinkan setelah tiga kasus bunuh diri terjadi dalam kurun waktu dua pekan di awal tahun 2026.
Masyarakat Ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah pun digegerkan oleh rentetan kejadian tragis yang menimpa individu dari latar belakang yang berbeda.
Tercatat sejak awal Januari, kejadian pertama terjadi pada malam tahun baru yang menimpa seorang pemuda, diikuti oleh kasus berikutnya yang baru-baru ini ditemukan pada seorang karyawan swasta di rumah kontrakannya.
Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, termasuk pemerhati kesehatan mental dan sosial serta Tim Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Provinsi Kalimantan Tengah.
Menanggapi hal ini, Widya Kumala, pemerhati kesehatan mental dan sosial sekaligus anggota Satgas PPA Kalteng, menegaskan bahwa tindakan mengakhiri hidup bukanlah sebuah tanda kelemahan karakter. Sebaliknya, hal ini merupakan puncak dari akumulasi tekanan mental yang tidak tertangani.
"Kita harus menyadari bahwa bunuh diri sering kali adalah titik akhir dari rasa kesepian, putus asa, dan tekanan beban hidup yang terasa tidak ada jalan keluarnya. Banyak dari mereka memendam masalah sendiri karena merasa tidak ada ruang aman untuk bercerita," ujar Widya yang kerap di sapa kak Yaya, Minggu, 11 Januari 2026.
Widya menyoroti bahwa stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi penghalang besar bagi seseorang untuk mencari bantuan profesional di era sekarang.
Perasaan tidak dimengerti membuat individu lebih memilih menutup diri hingga mencapai ambang batas kemampuan psikisnya.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga pemerintah untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang-orang di sekitar.
"Kepedulian sederhana bisa menjadi penentu hidup atau matinya seseorang. Seringkali yang dibutuhkan hanyalah telinga yang mau mendengar, bukan penghakiman atau ceramah yang justru menambah beban," tambahnya.
Masyarakat diminta membangun budaya saling menguatkan dan berani berbicara saat menghadapi masalah, serta tidak menganggap masalah mental sebagai hal yang tabu karena hal itu hanya akan memperpanjang daftar korban.
Widya pun menekankan bahwa setiap nyawa sangat berharga dan tidak ada masalah yang lebih besar dari nilai kehidupan itu sendiri.
Pemerintah dan tokoh masyarakat diharapkan dapat memperkuat sistem pendukung kesehatan mental yang lebih aksesibel bagi warga.
"Jangan normalisasi keputusasaan. Jika melihat tanda-tanda depresi pada teman atau keluarga, rangkul mereka dan dorong untuk mencari bantuan profesional. Kita harus bergerak bersama sebelum angka ini terus bertambah," tegas Widya. (PATHUR/H)









