BORNEONEWS, Pulang Pisau – Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau terus berupaya melahirkan inovasi guna mendukung kemajuan dunia pendidikan, salah satunya melalui penguatan pelestarian budaya dan bahasa lokal di satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau, Sri Putri Pratiwi, menyampaikan bahwa upaya pelestarian budaya dan bahasa daerah dapat dilakukan melalui penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah.
“Terkait dengan penyusunan kurikulum muatan lokal, program ini sebenarnya sudah diwacanakan sejak tahun 2023 dan memang sudah ada rencana implementasinya,” ujar Putri, Senin, 12 Januari 2026.
Menurut Putri, dalam penyusunan kurikulum muatan lokal terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui. Kendala awal yang dihadapi adalah terkait regulasi, khususnya peraturan gubernur sebagai payung hukum pelaksanaannya, sehingga pihaknya harus menunggu aturan turunan tersebut.
“Namun setelah dilakukan koordinasi melalui bidang-bidang terkait, khususnya bidang pembinaan pendidikan dasar, progres terakhirnya telah dilaksanakannya bimbingan teknis penyusunan kurikulum muatan lokal,” jelasnya.
Bimbingan teknis tersebut dilaksanakan di Palangka Raya selama kurang lebih tiga hari pada Desember 2025. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur dan personel yang tergabung dalam tim penyusun kurikulum muatan lokal.
“Tim-tim yang telah dibentuk inilah yang mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis sebagai bekal dalam penyusunan kurikulum,” tambah Putri.
Ia menegaskan, ke depan kurikulum muatan lokal ini diharapkan dapat segera diimplementasikan. Dari sisi sumber daya manusia, Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau menilai sudah cukup siap untuk melaksanakan penyusunan dan penerapan kurikulum tersebut.
Dalam proses penyusunannya, Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau juga bekerja sama dengan Lembaga Pertemuan Dayak (LPD) Provinsi Kalimantan Tengah. Berbagai materi telah disampaikan sebagai acuan dan referensi dalam penyusunan kurikulum muatan lokal.
Putri berharap, dengan diterapkannya kurikulum muatan lokal, peserta didik dapat mengenal, mempelajari, serta mencintai budaya dan bahasa lokal yang saat ini mulai tergerus oleh perkembangan zaman. (RETHA/j)









