BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Sikap tidak peka terhadap nilai kemanusiaan ditunjukkan oleh pengelola feri penyeberangan Mandomai saat sejumlah unit pemadam kebakaran swasta (BPK) melintas menuju dan kembali dari lokasi kebakaran di Desa Pantai, Kecamatan Kapuas Barat, Senin pagi, 12 Januari 2026.
Meski dalam kondisi darurat membantu warga yang tertimpa musibah, sejumlah unit damkar tetap dikenakan tarif penyeberangan umum.
Sejumlah BPK yang berangkat menuju tempat kejadian perkara (TKP) di antaranya Damkar Induk dua unit, Tirta Borneo, Nurul Iman, Anggrek Seven, Mahakam dua unit, Soltun, Aulia, serta Anggrek 4 Al Hidayah.
Dari informasi relawan di lapangan, setidaknya tiga BPK diketahui membayar tarif feri, yakni BPK Aulia, BPK Soltun, dan BPK Anggrek 4 Al Hidayah.
Relawan BPK Anggrek 4 Al Hidayah, Sugi mengungkapkan bahwa unit pemadam dikenakan tarif sebesar Rp35 ribu sekali menyeberang.
Untuk perjalanan pergi dan pulang, satu unit harus membayar hingga Rp70 ribu, meskipun sedang menjalankan misi kemanusiaan membantu warga terdampak kebakaran.
“Yang jadi persoalan bukan semata-mata soal uang Rp35 ribu itu, tapi soal rasa toleransi. Kami ini menolong orang yang kena musibah, tapi justru dikenakan tarif seperti penyeberangan biasa,” ujar Sugi dengan nada kecewa.
Kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Menurutnya sejak dulu feri Mandomai dinilai tidak memiliki empati terhadap kegiatan kemanusiaan.
Ia mencontohkan peristiwa pencarian korban tenggelam beberapa waktu lalu yang melibatkan BPK selama tiga hari, namun tetap dikenakan biaya saat membawa jenazah kembali ke Kapuas.
“Waktu itu kami mencari orang tenggelam selama tiga hari. Setelah jenazah ditemukan dan dibawa pulang menggunakan unit BPK, tetap diminta bayar Rp50 ribu. Jadi memang dari dulu tidak ada rasa toleransi,” ungkapnya.
Sugi menegaskan bahwa para relawan tidak pernah mempermasalahkan nominal biaya, namun berharap adanya kebijakan khusus atau dispensasi bagi kendaraan pemadam dan relawan yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan, terlebih dalam situasi darurat seperti kebakaran atau pencarian korban.
Peristiwa ini pun menuai keprihatinan di kalangan relawan dan masyarakat. Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mengevaluasi kebijakan penyeberangan feri Mandomai agar ke depan lebih mengedepankan nilai kemanusiaan, khususnya bagi tim penyelamat dan pemadam kebakaran yang bekerja tanpa pamrih demi keselamatan warga. (SABRIANOOR/R)









