SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sepak sawut menjadi salah satu olahraga tradisional yang menarik perhatian dalam Festival Budaya Habaring Hurung di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Permainan unik ini dikenal sebagai sepak bola api yang dimainkan tanpa alas kaki.

"Sepak sawut adalah permainan tradisional Kalimantan Tengah. Di Kotim, kami melaksanakannya dalam rangka Festival Budaya Habaring Hurung. Walaupun pesertanya hanya empat tim, kegiatan ini tetap kami laksanakan sebagai upaya pelestarian," ujar Koordinator Sepak Sawut Festival Budaya Habaring Hurung Kotim Ahmad Mawardi, Selasa, 13 Januari 2026.

Sepak sawut yang merupakan permainan tradisional khas Kalimantan Tengah tersebut terus dilestarikan melalui agenda Festival budaya habaring hurung pada Senin malam, 12 Januari 2026.

Keunikan sepak sawut terletak pada bola yang digunakan. Berbeda dengan sepak bola pada umumnya, bola sepak sawut dibuat dari buah kelapa tua yang kulit luarnya dibuang, kemudian dibentuk menyerupai bola. Setelah itu, bola direndam dengan minyak tanah dan dibakar sebelum digunakan dalam pertandingan.

"Kami menyiapkan sekitar 25 bola kelapa. Dalam satu pertandingan biasanya ada bola yang rusak dan tidak bisa dipakai lagi," tambahnya.

Dari sisi aturan, teknis permainan sepak sawut hampir serupa dengan futsal. Setiap tim terdiri dari tujuh pemain, yakni lima pemain inti dan dua pemain cadangan. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam aturan permainan.

"Pada sepak sawut, jika penjaga gawang sudah menyentuh bola, maka bola sepenuhnya menjadi penguasaannya dan tidak boleh direbut oleh pemain lain," katanya.

Selain itu, seluruh pemain diwajibkan bermain tanpa sepatu atau alas kaki. Para pemain harus bertelanjang kaki saat menghadapi bola api yang menyala, sehingga membutuhkan konsentrasi dan keberanian tinggi.

Dari seluruh tim yang bertanding, panitia akan memilih pemain-pemain terbaik untuk mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Para pemain terpilih nantinya akan mendapatkan pembinaan dan pelatihan terpusat sebelum berlaga di ajang provinsi.

Salah satu peserta sepak sawut Ramadan, dari tim Tiga Putra Baamang, mengaku persiapan timnya terbilang singkat. Mereka hanya melakukan latihan sekitar satu minggu tanpa persiapan khusus.

"Persiapan kami sekitar satu minggu saja. Ini pertandingan pertama kami. Yang penting tahu cara bermain dan memahami peraturan sepak sawut," ungkapnya.

Ia mengakui ada tantangan tersendiri dalam memainkan olahraga tradisional ini, terutama saat berhadapan langsung dengan bola api.

"Tantangannya jelas bola yang panas. Selain itu, kondisi agak gelap membuat rekan-rekan sulit melihat. Karena bola terbuat dari kelapa, rasanya juga cukup sakit di kaki, apalagi kalau berbenturan dengan tulang," tuturnya.

Meski demikian, Ramadan mengaku tertarik dengan sepak sawut dan siap kembali mengikuti jika ada event serupa di masa mendatang. Menurutnya, sepak sawut bukan hanya olahraga, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan warisan budaya dan olahraga tradisional Kalimantan Tengah agar tetap dikenal oleh generasi muda. (DEWI PATMALASARI/H)