BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Kota Kuala Pembuang, ibukota Kabupaten Seruyan dan wilayah sekitarnya, tak luput dari guyuran hujan lebat belakangan ini. Tingginya intensitas hujan membuat sebagian besar kalangan ibu rumah tangga di Kuala Pembuang cukup merasa dipusingkan karena jemuran pakaian keluarga mereka sulit kering. Mereka pun beralih dengan memanfaatkan jasa usaha laundry. Alhasil, para pelaku jasa usaha laundry pun banyak mendulang omzet penghasilan.
“Karena pakaian yang dijemur di rumah seringkali tak kering-kering tiap hari, ya mau terpaksa harus dicuci di-laundry saja agar bisa cepat dipakai buat pengganti pakaian selanjutnya. Masalahnya tiap hari selalu hujan terus,” aku Erna, ibu rumah tangga yang berdiam di Jalan RA Kartini Kuala Pembuang, Kamis (8/12/2012).
Keluhan serupa juga disampaikan Wati Darma, ibu rumah tangga yang tinggal di lokasi Jalan Mahang Desa Persil Raya Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan.
“Kalau tidak disiasati dengan memanfaatkan jasa laundry, pakaian yang kita cuci di rumah justru lambat kering. Meski harus mengeluarkan biaya pengupahan pencucian, buat saya tidak masalah. Ketimbang harus menunggu keringnya jemuran yang tak pasti karena sering hujan,” ungkapnya.
Sementara itu Susanti, pemilik jasa usaha ‘Sovia Laundry’ yang menjalankan usaha penerimaan cucian yang beralamat di Jalan DI Panjaitan Kuala Pembuang, mengaku, semenjak sering turunnya hujan di Kuala Pembuang, jasa usaha yang telah digelutinya selama beberapa tahun terakhir ini, sekarang makin ramai dengan banyaknya penerimaan pesanan mencuci pakaian kotor.
Santi mengatakan, saat ini ia mampu menerima pesanan sekitar 40-60 kilogram pakaian kotor dengan patokan biaya pencucian berkisar mulai dari Rp4.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
“Kebanyakan dari mereka (pelanggan) yang mengantar pakaian ke sini merupakan ibu rumah tangga. Sedangkan lainnya, berasal dari warga yang tinggal di kost an,” kata Susanti yang ditemui di kediamannya, Kamis (8/12/2016).
Padahal sebelum seringnya turun hujan saat siang atau malam musim, pesanan laundry yang dia sangat minim karena warga lebih memilih untuk mencuci pakaian mereka di rumah.
“Ada berkahnya juga sering hujan karena penghasilan usaha kita paling tidak bisa mengalami peningkatan,” ungkapnya.
Susanti menambahkan, di saat musim kemarau tiba pun juga banyak warga yang menggunakan jasa pencucian pakaian di tempat usahanya. Alasan konsumen karena selama musim kemarau itu air saluran PDAM Kuala Pembuang seringkali terasa asin. Sehingga, menurut mereka, mencuci di rumah dinilai kurang efektif sebab air PDAM yang digunakan untuk mencuci tidak berbusa dengan penggunaan deterjen.
“Pengantar pakaian ke sini kebanyakan juga merupakan pelanggan yang menggunakan saluran air PDAM di rumah mereka,” ujarnya. (PARNEN/m)








