BORNEONEWS, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.189 jiwa, berdasarkan pembaruan data hingga Senin, 12 Januari 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, korban meninggal tersebut terdiri atas 550 jiwa di Aceh, 375 jiwa di Sumatera Utara, dan 231 jiwa di Sumatera Barat, sementara 33 korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat 141 orang dilaporkan hilang serta 195.542 jiwa terpaksa mengungsi akibat dampak bencana. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 67.876 jiwa.
Abdul Muhari menyampaikan bahwa pemerintah tidak hanya terus memperbarui data dampak bencana selama masa tanggap darurat, termasuk perpanjangan status darurat di enam kabupaten di Aceh, tetapi juga mempercepat proses pemulihan pada fase transisi darurat di puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.
Dalam tahap pemulihan tersebut, BNPB memprioritaskan pemulihan infrastruktur vital, khususnya pembangunan 270 unit jembatan Bailey yang tersebar di tiga provinsi terdampak.
“Hingga saat ini, 20 unit jembatan telah terpasang, sementara 10 unit lainnya masih dalam tahap pemasangan,” ujarnya, Rabu, 14 Januari 2026.
Di Provinsi Aceh, lanjut Abdul Muhari, pemerintah pusat telah mengirimkan 117 unit jembatan Aramco guna mempercepat pemulihan akses ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi. Salah satunya Jembatan Bailey Jamur Ujung di ruas Bireuen–Takengon, yang kini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat.
Selain itu, proses perakitan Jembatan Krueng Pelang di Kabupaten Aceh Tengah telah mencapai sekitar 80 persen, disertai kegiatan normalisasi sungai serta pembersihan fasilitas umum yang dilakukan secara terpadu oleh unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah.
ANTARA









