SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Ecoprint menjadi salah satu produk kain berbahan alam dengan nilai ekonomi yang tinggi. Namun, di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kain dengan motif daun-daun dan bunga dengan warna alaminya tersebut belum banyak dilirik generasi muda.

Salah satu pelaku usaha yang konsisten mengembangkan ecoprint di Sampit adalah Taslimah. Sejak lima tahun lalu, 2020, dirinya mendirikan Gallery Ecoprint Hantingan. Ibu rumah tangga itu bahkan telah diakui sebagai ecoprinter nasional Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI) sejak 2023.

Mengenal ecoprint

Taslimah menjelaskan, ecoprint merupakan teknik mencetak motif pada kain dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, terutama dedaunan dan bunga. Namun, tidak semua kain bisa digunakan dalam proses ini.

"Ecoprint itu proses mencetak kain yang bersumber dari bahan alam. Kainnya harus mengandung serat alam dan tidak boleh berbahan polyester atau plastik, karena kalau ada kandungan plastik, warnanya tidak akan terserap dengan baik," kata Taslimah, Rabu, 14 Januari 2026.

Teknik dan proses pembuatan

Dalam praktiknya, ecoprint memiliki dua teknik, yakni pounding (pukul) dan moulding (kukus). Sebelum motif daun dicetak melalui dua teknik tersebut, kain wajib melalui tahapan scouring dan mordanting.

Scouring merupakan proses pembersihan kain untuk menghilangkan minyak dan kotoran, sedangkan mordanting adalah perendaman kain menggunakan larutan tertentu agar warna alami dapat menempel lebih kuat dan tahan lama. Kedua tahapan ini menjadi kunci keberhasilan hasil ecoprint.

Selanjutnya, pemberian motif dengan teknik pounding harus menggunakan daun yang mengandung zat tanin tinggi seperti jati, jambu biji, kelor, ketapang, mangga, eukaliptus, dan pepaya jepang. 

Zat alami dari daun tersebut akan berpindah ke kain saat dipukul menggunakan palu sehingga membentuk motif alami. Setelah proses pemukulan, kain didiamkan selama 3-7 hari, selanjutnya dicuci dan siap dipasarkan atau dipakai.

Sementara itu, teknik moulding atau kukus lebih fleksibel karena hampir semua jenis daun dapat digunakan. Daun disusun di atas kain, kemudian dikukus. Setelah proses kukus, kain dioksidasi dengan udara selama 3-7 hari.

Taslimah menjelaskan, pada dasarnya di setiap daerah tidak memiliki ciri khusus untuk motif ecoprint. Namun dirinya kerap mengangkat pakis sebagai tanaman yang identik dengan daerah Kalimantan.

"Kalau saya lebih mengangkat pakis. Walaupun tidak mengeluarkan warna karena zat taninnya kurang, tetapi tetap meninggalkan jejak seperti siluet putih yang khas," ujarnya.

Kurangnya minat generasi muda menggeluti ecoprint yang bernilai ekonomi tinggi

Meski memiliki potensi besar, Taslimah mengakui minat generasi muda di Kotim terhadap ecoprint masih tergolong rendah. Karena itu, ia mendorong adanya edukasi kepada masyarakat.

Salah satu upaya yang ia tempuh yaitu melalui lomba ecoprint dalam kegiatan di Gelora Kriya Dekranasda bertepatan HUT ke-73 Kotim. Kegiatan yang pertama kali dilaksanakan di Sampit tersebut diikuti 10 kelompok pelajar SMA. Selain perlombaan, secara tidak langsung, kegiatan itu mengenal ecoprint mulai dari proses pembuatan.

Lanjutnya, ecoprint sangat layak dikenalkan sejak dini karena bahan bakunya mudah diperoleh dan seluruh prosesnya berbasis alam, mulai dari kain hingga pewarna.

Dari sisi pasar, produk ecoprint di Kotim saat ini lebih diminati oleh kalangan menengah ke atas. Harga kain ecoprint bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung ukuran serta jenis kain yang digunakan.

Dalam proses produksi, di Gallery Ecoprint Hantingan, Taslimah mengerjakan sendiri untuk pesanan 10-30 kain. Namun, untuk pesanan besar atau persiapan bazar, ia melibatkan tenaga tambahan.

Meski bukan kebutuhan harian, ecoprint terbukti memiliki nilai jual tinggi. Taslimah menuturkan, dalam satu event di Palangka Raya, penjualan kain ecoprint pernah menembus angka Rp15 juta. Hal ini menunjukkan bahwa ecoprint tidak hanya bernilai seni, tetapi juga berpeluang besar menjadi produk unggulan ekonomi kreatif. (DEWI PATMALASARI/H)