SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit memasang satu set perangkap beruang madu di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Upaya ini dilakukan sebagai bentuk respons atas keresahan masyarakat akibat kemunculan satwa liar tersebut di area permukiman.

"Kami memasang satu set perangkap dengan umpan durian dan nanas. Lokasi pemasangan berdasarkan hasil observasi lapangan, di mana ditemukan jejak serta jalur lintasan beruang," kata Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, Kamis, 15 Januari 2026.

Pemasangan perangkap tersebut dilakukan di Jalan Bumi Raya 1, Kelurahan Baamang Barat, tepatnya di kawasan semak belukar yang sebelumnya teridentifikasi sebagai jalur perlintasan beruang. Dalam kegiatan tersebut, BKSDA Resort Sampit melibatkan bantuan personel Manggala Agni. 

Muriansyah menjelaskan, lokasi tersebut dipilih setelah adanya laporan berulang terkait kemunculan beruang di sekitar Perumahan Az-Zahra dan Perumahan Mahardika. Dirinya menggunakan umpan buah beraroma kuat untuk menarik perhatian beruang agar masuk ke dalam perangkap berbentuk tong besi.

Ia menambahkan, beruang madu yang berkeliaran di wilayah tersebut diduga sudah berusia dewasa dan menunjukkan perubahan perilaku yang cukup mengkhawatirkan. Satwa dilindungi itu dinilai semakin berani karena tidak lagi menghindari aktivitas manusia, bahkan mendekati permukiman padat penduduk untuk mencari makan.

BKSDA mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tidak mendekati satwa liar, serta segera melapor apabila kembali melihat keberadaan beruang di sekitar permukiman atau telah tertangkap dalam perangkap.

Apabila beruang madu tersebut berhasil tertangkap, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Pangkalan Bun untuk proses evakuasi lebih lanjut.

"Jika perangkap berhasil, kami langsung melaporkan ke pimpinan di Pangkalan Bun. Tim rescue akan segera datang untuk mengevakuasi beruang tersebut," pungkas Muriansyah.

Sementara itu, salah satu warga Ahmad Susilo mengaku pernah berhadapan langsung dengan beruang tersebut saat hendak melintas menggunakan mobil.

"Beruangnya berdiri di tengah jalan, ada mobil yang mau lewat tapi akhirnya mundur karena takut. Ukurannya besar, kalau berdiri tingginya kira-kira se-leher saya, beratnya mungkin lebih dari 50 kilogram," kata Ahmad.

Beruang tersebut tidak langsung kabur saat melihat manusia. Satwa itu baru masuk ke semak-semak setelah warga beramai-ramai mendekat untuk menghalaunya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ridwan, Lurah Tanah Mas yang tinggal di sekitar lokasi. Ia menyebut warga merasa was-was, terutama saat beraktivitas pada malam hari, karena potensi konflik antara manusia dan satwa liar cukup tinggi.

"Kami berharap perangkap ini segera membuahkan hasil agar beruang bisa diamankan dan warga kembali merasa aman," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)