BORNEONEWS, Istanbul – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak kembali menempuh opsi konfrontasi militer terhadap Teheran. Ia menegaskan bahwa Iran tetap membuka ruang diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
“Pesan saya jelas, jangan mengulangi kesalahan yang Anda lakukan pada Juni lalu,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan Fox News, Rabu, 15 Januari 2026, merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran saat konflik Iran–Israel yang berlangsung selama 12 hari.
Menurut Araghchi, serangan militer tidak akan menghentikan kemampuan Iran. Ia menegaskan bahwa teknologi dan tekad suatu bangsa tidak dapat dihancurkan dengan bom. “Fasilitas bisa dihancurkan, tetapi teknologi dan tekad tidak bisa dibom,” katanya.
Meski mengakui hubungan Iran dan Amerika Serikat sarat dengan pengalaman negatif, Araghchi menegaskan bahwa jalur perundingan tetap menjadi pilihan utama Teheran. Ia menilai diplomasi lebih baik dibandingkan eskalasi konflik bersenjata.
“Iran telah menunjukkan kesiapan untuk bernegosiasi dan berdiplomasi. Namun, selama dua dekade terakhir, Amerika Serikat justru berulang kali meninggalkan jalur tersebut,” ujarnya.
Terkait situasi dalam negeri Iran, Araghchi mengklaim pemerintah menerapkan sikap menahan diri dalam menghadapi gelombang protes. Namun ia menuding aksi demonstrasi telah disusupi kelompok bersenjata yang disebutnya sebagai sel teror dari luar negeri.
Ia juga menolak anggapan bahwa korban tewas berasal dari kalangan pengunjuk rasa damai. Menurutnya, bentrokan terjadi akibat serangan kelompok bersenjata terhadap aparat keamanan, yang disebut berlangsung selama beberapa hari.
Araghchi menuding eskalasi situasi merupakan bagian dari rencana Israel untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik yang lebih luas. Ia memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan akan berdampak buruk bagi semua pihak.
“Kini situasi telah terkendali. Eskalasi lebih lanjut akan membawa konsekuensi bencana,” katanya.
Sementara itu, pejabat Amerika Serikat meningkatkan tekanan politik terhadap Iran seiring meluasnya protes sejak akhir Desember 2025 akibat memburuknya kondisi ekonomi. Presiden Trump sebelumnya menyatakan Washington akan mengambil tindakan tegas jika Iran melakukan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.
Pemerintah Iran membantah tuduhan pelanggaran tersebut dan menuding Amerika Serikat serta Israel berada di balik kerusuhan, klaim yang dibantah kedua negara. Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi korban dan penahanan, sementara kelompok HAM melaporkan ribuan korban jiwa dan puluhan ribu orang ditahan.
Sumber: Anadolu/ANTARA









