BORNEONEWS, Washington – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan gelombang demonstrasi yang sempat melanda negaranya telah berakhir dan situasi keamanan kini sepenuhnya terkendali. Ia juga membantah adanya rencana pemerintah Iran untuk mengeksekusi para pengunjuk rasa.
“Saya bisa sampaikan bahwa selama empat hari terakhir situasi tenang. Tidak ada demonstrasi, tidak ada kerusuhan,” kata Araghchi dalam wawancara dengan Fox News, Rabu, 15 Januari 2026.
Araghchi menegaskan aparat keamanan Iran telah mengendalikan kondisi di seluruh wilayah negara tersebut. Ia sekaligus menepis laporan dan sorotan internasional terkait dugaan rencana hukuman gantung terhadap demonstran.
“Tidak ada rencana untuk menggantung siapa pun,” ujarnya.
Aksi protes di Iran diketahui pecah sejak akhir Desember 2025, dipicu memburuknya kondisi ekonomi akibat lonjakan inflasi dan melemahnya nilai tukar rial Iran yang menekan daya beli masyarakat.
Gelombang unjuk rasa meningkat sejak 8 Januari 2026 setelah Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, menyerukan demonstrasi terhadap pemerintah.
Pada periode yang sama, pemerintah Iran memblokir akses internet secara nasional. Otoritas menyebut langkah tersebut diambil demi menjaga stabilitas, sementara kelompok hak asasi manusia menilai kebijakan itu sebagai upaya membatasi arus informasi.
Di sejumlah kota besar, demonstrasi sempat berubah menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan, dengan tuntutan yang menyoroti kebijakan ekonomi dan politik pemerintah.
Meski demikian, hingga kini otoritas Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban jiwa maupun luka-luka akibat kerusuhan tersebut.
Situasi Iran turut mendapat perhatian Amerika Serikat. Pada akhir Desember 2025, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington siap mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya.
Di tengah gelombang protes, Trump juga mengancam akan mengambil tindakan keras apabila demonstran dibunuh, seraya menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran. Sikap Gedung Putih tersebut dinilai semakin meningkatkan ketegangan hubungan kedua negara.
Sumber: Sputnik/ANTARA









