PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Upaya menjadikan pasar-pasar di Kota Palangka Raya lebih tertata dan modern dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penataan fisik. Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, menegaskan pentingnya pendekatan personal dengan melibatkan langsung para pedagang sebagai kunci keberhasilan transformasi pasar.

Menurut Khemal, pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan pembangunan pasar dengan infrastruktur megah tanpa dukungan pelaku usaha justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.

“Kalau hanya membangun fisiknya saja tanpa memahami kebutuhan pedagang, pasar yang dibangun bisa saja terlihat bagus, tetapi tidak hidup dan tidak memberi dampak nyata bagi ekonomi rakyat,” ujar Khemal, Jumat, 16 Januari 2026.

Ia menjelaskan, pendekatan personal terhadap pedagang perlu dilakukan melalui beberapa tahapan. Salah satunya dengan melakukan kajian mendalam terkait kondisi usaha masing-masing pelaku, mulai dari jenis dagangan, permodalan, hingga tantangan yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, Khemal juga mendorong adanya edukasi dan pelatihan bagi pedagang, terutama terkait manajemen usaha, keamanan pangan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menunjang kegiatan perdagangan.

“Transformasi pasar harus dibarengi peningkatan kapasitas pedagang agar mereka mampu beradaptasi dengan perubahan dan tetap berdaya saing,” jelasnya.

Untuk memperkuat sinergi, Khemal mengusulkan pembentukan kelompok kerja bersama yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD, serta asosiasi pedagang. Kelompok ini diharapkan menjadi ruang komunikasi efektif dalam menampung aspirasi dan merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Ia menilai partisipasi aktif pedagang akan membuat proses penataan pasar berjalan lebih berkelanjutan dan minim resistensi.

Lebih lanjut, Khemal berharap modernisasi pasar di Palangka Raya tidak menghilangkan nilai budaya dan karakter khas pasar tradisional yang telah melekat di tengah masyarakat.

“Pasar modern yang kita harapkan adalah pasar yang bersih, nyaman, dan tertata, namun tetap menjaga kehangatan interaksi antara pedagang dan pembeli sebagai identitas kota,” pungkasnya. (MARINI/J)