JAKARTA –

BORNEONEWS, Bogota - Ratusan warga Kolombia berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Bogota untuk memprotes penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, demikian laporan koresponden RIA Novosti, Jumat 16 Januari 2026.

Aksi yang digelar pada Kamis itu diselenggarakan oleh serikat guru terbesar di Kolombia, Federasi Pekerja Pendidikan Kolombia (Fecode).

"Ini adalah tindakan perlawanan terhadap pembunuhan brutal 130 orang lebih dan penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya yang juga anggota parlemen, Cilia Flores. Ini adalah tindakan memalukan dari kebiadaban yang mengerikan," kata Juan Fernando Romero, aktivis sekaligus pengacara, kepada RIA Novosti.

Pada 3 Januari; Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela. Mereka menangkap Maduro dan istrinya serta membawa keduanya ke New York.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan menghadapi persidangan karena diduga terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.

Selama di pengadilan New York, keduanya mengaku tidak bersalah atas tuduhan tersebut. Merespons kondisi tersebut, Mahkamah Agung Venezuela untuk sementara waktu menyerahkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez.

Pada 5 Januari Rodriguez resmi dilantik sebagai presiden sementara Venezuela dan mengucap sumpah di hadapan Majelis Nasional.

Sumber: Sputnik/ANTARA