JAKARTA –

BORNEONEWS, Beijing – Pemerintah China meminta agar perjanjian kemitraan pertahanan antara Filipina dan Jepang yang baru saja ditandatangani tidak mengganggu perdamaian serta stabilitas kawasan Asia Pasifik.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan, kerja sama antarnegara seharusnya tidak menargetkan atau merugikan pihak ketiga, apalagi berpotensi menciptakan ketegangan regional. Pernyataan tersebut disampaikan di Beijing, Jumat, 16 Januari 2026.

“China berpendapat bahwa kerja sama antarnegara tidak boleh merusak perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujar Guo.

Filipina dan Jepang sebelumnya menandatangani sejumlah kesepakatan keamanan, termasuk Perjanjian Akuisisi dan Layanan Lintas Batas atau Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ACSA). Perjanjian ini memungkinkan dukungan logistik timbal balik antara angkatan bersenjata kedua negara.

Menurut Guo, kesepakatan pertahanan tersebut perlu disikapi secara hati-hati, mengingat rekam jejak sejarah militer Jepang di kawasan Asia pada masa Perang Dunia II yang menimbulkan penderitaan besar, termasuk bagi China dan Filipina.

Ia menilai Jepang belum sepenuhnya menunjukkan refleksi diri atas masa lalunya dan justru terus memperluas pembangunan militernya dengan alasan keamanan, yang dikhawatirkan mendorong kembali praktik remiliterisasi.

“Negara-negara yang mencintai perdamaian seharusnya menentang kebangkitan militerisme dan bersama-sama menjaga stabilitas kawasan,” katanya.

China menyatakan akan terus mencermati perkembangan kerja sama pertahanan antara Filipina dan Jepang, serta menyerukan agar seluruh pihak bertindak secara bertanggung jawab demi menjaga keamanan dan perdamaian regional.

ANTARA