JAKARTA –

BORNEONEWS, Mexico City – Pemerintah Venezuela mengklaim sedikitnya 83 orang tewas dan 112 lainnya terluka akibat operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez dalam upacara penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam operasi tersebut, Jumat, 16 Januari 2026.

Menurut Padrino Lopez, korban tewas mencakup 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), termasuk sembilan perempuan, serta warga sipil. Ia juga menyebut sebanyak 32 korban merupakan warga negara Kuba.

“Sebanyak 83 orang gugur dan lebih dari 112 lainnya mengalami luka-luka yang saat ini dirawat dalam sistem kesehatan militer kami,” ujarnya.

Pemerintah Venezuela menyatakan akan memberikan bantuan kepada keluarga korban serta membangun monumen nasional untuk mengenang mereka yang dinilai gugur dalam mempertahankan kedaulatan negara.

Sebelumnya, pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer skala besar di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian diterbangkan ke New York untuk menjalani proses hukum.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Maduro dan Cilia Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam kasus “narkoterorisme” dan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan regional, termasuk bagi Amerika Serikat.

Dalam sidang perdana di New York, pasangan tersebut menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan.

Pasca penangkapan tersebut, Venezuela mengajukan permintaan pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mahkamah Agung Venezuela juga menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA