BORNEONEWS, Samarinda – Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, menegaskan bahwa konsistensi perilaku sehari-hari jauh lebih penting dibandingkan sekadar menetapkan resolusi besar dalam menjaga kesehatan jiwa masyarakat.
Menurut Rani, resolusi kerap diawali dengan motivasi tinggi namun mudah menurun seiring waktu, sehingga justru berpotensi menimbulkan tekanan mental ketika target perubahan besar tidak tercapai.
“Konsistensi lebih relevan daripada resolusi dalam menjaga kesehatan jiwa, karena resolusi sering kali besar dan menuntut perubahan cepat, sementara konsistensi mendorong proses yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya di Samarinda, Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pendekatan berbasis konsistensi mendorong individu melakukan langkah-langkah kecil secara rutin, yang secara psikologis lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Pola ini dinilai lebih sehat karena menekankan penghargaan terhadap proses, ketekunan, disiplin diri, serta keinginan untuk terus belajar.
Rani menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap upaya menjaga kesehatan mental yang selama ini sering dikaitkan dengan perubahan drastis, terutama pada momen-momen tertentu seperti awal tahun.
Selain itu, ia juga menyoroti masih maraknya kesalahpahaman tentang konsep sehat jiwa di tengah masyarakat. Salah satu anggapan keliru yang sering ditemui adalah pandangan bahwa orang yang sehat mental harus selalu bahagia dan terbebas dari emosi negatif.
“Masyarakat juga kerap mengira kesehatan mental ditandai dengan tidak adanya masalah hidup, produktivitas yang selalu tinggi, atau kondisi ekonomi yang mapan,” jelasnya.
Menurut Rani, faktor eksternal seperti keluarga harmonis, pasangan yang selalu memahami, dan pertemanan yang ideal sering dijadikan tolok ukur mutlak kesehatan jiwa, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya menentukan.
Ia menegaskan, kesehatan jiwa sejati justru berawal dari kesadaran diri, penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan, pemahaman potensi diri, serta kemampuan berdamai dengan masa lalu.
“Kuncinya adalah kemampuan individu beradaptasi menghadapi situasi sulit tanpa kehilangan fungsi sosialnya,” katanya.
Rani berharap pemahaman ini dapat membantu masyarakat terlepas dari standar kesempurnaan semu yang justru berisiko memicu kecemasan ketika realitas hidup tidak sesuai dengan ekspektasi ideal.
ANTARA









