BORNEONEWS, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menambah alokasi anggaran khusus pada 2026 guna mempercepat deteksi tuberkulosis (TBC), terutama melalui perluasan akses layanan skrining dan diagnosis di daerah dengan tingkat kasus tinggi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mencapai target eliminasi TBC nasional yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
“Untuk menuju eliminasi TBC, ada beberapa indikator utama yang harus dicapai, yakni penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, serta pemberian Terapi Pencegahan TBC,” ujar Aji di Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.
Berdasarkan data Sistem Informasi TBC, hingga 11 Januari 2026, capaian penemuan kasus TBC secara nasional baru mencapai sekitar 79 persen dari target 90 persen. Artinya, masih terdapat kesenjangan sekitar 11 persen yang perlu dikejar melalui penguatan strategi deteksi dini.
Meski demikian, Aji menyebutkan bahwa capaian inisiasi pengobatan tergolong cukup baik. Untuk kasus TBC sensitif obat, angka inisiasi pengobatan telah mencapai 93 persen dari target 95 persen, sedangkan TBC resistan obat mencapai 83 persen dari target yang sama.
Namun, dari sisi keberhasilan pengobatan, khususnya TBC resistan obat, capaian masih relatif rendah, yakni sekitar 59 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan pendampingan pasien, peningkatan kepatuhan minum obat, serta dukungan sistem layanan kesehatan.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kemenkes pada 2026 akan memfokuskan program pada prinsip Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC). Strategi ini mencakup skrining TBC secara aktif, investigasi kontak pasien, penguatan pencatatan dan pelaporan, serta peningkatan kolaborasi lintas sektor.
“Intervensi utama meliputi distribusi dan optimalisasi penggunaan alat diagnostik seperti rontgen dada atau X-ray, serta pemanfaatan Near Point of Care Testing (NPOCT) untuk meningkatkan kapasitas deteksi dini secara cepat dan akurat,” jelasnya.
Aji berharap penambahan anggaran dan penguatan strategi tersebut dapat mempercepat penemuan kasus TBC, menekan laju penularan, serta mendukung pencapaian target nasional penanggulangan TBC.
Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Pola hidup bersih dan sehat, olahraga teratur, menghindari rokok dan alkohol, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan menjadi langkah penting pencegahan.
“Bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC, patuhi pengobatan hingga tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan. Disiplin berobat adalah kunci utama kesembuhan dan pencegahan penularan,” katanya.
Selain itu, Aji mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada pasien TBC, melainkan memberikan dukungan dan semangat agar proses pengobatan dapat berjalan optimal.
ANTARA









