BORNEONEWS, Palangka Raya – Pasokan daging ayam ras atau ayam broiler di Kota Palangka Raya masih belum mampu memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Kekurangan sekitar 3.000 ekor ayam per hari dari kebutuhan ideal membuat harga daging ayam di pasaran melonjak hingga menyentuh Rp45 ribu per kilogram, saat ini.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalimantan Tengah, Andi Bustan, menyebutkan kebutuhan daging ayam di Palangka Raya rata-rata mencapai 30 ribu ekor per hari. Namun, produksi dari peternak lokal baru mampu menyuplai sekitar 27 ribu ekor per hari.
“Kebutuhan daging ayam di Kota Palangka Raya cukup tinggi, sementara pasokan dari dalam daerah belum sepenuhnya mencukupi. Akibatnya, pasar tradisional kerap mengalami kekurangan stok,” ujar Andi Bustan, Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia menjelaskan, selisih antara kebutuhan dan produksi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan daging ayam di tingkat pedagang. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan ini menjadi pemicu utama fluktuasi harga yang cukup tajam.
Menurut Andi, pada periode tertentu harga daging ayam bisa melonjak signifikan hingga mencapai Rp45 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal. Kondisi ini dinilai memberatkan masyarakat, terutama rumah tangga dengan kebutuhan konsumsi harian yang tinggi.
Lonjakan harga dan keterbatasan stok semakin terasa saat permintaan meningkat, seperti pada hari besar keagamaan atau ketika berlangsung kegiatan masyarakat dalam skala besar. Pada situasi tersebut, sejumlah pedagang bahkan terpaksa menghentikan penjualan sementara karena kehabisan pasokan.
Selain keterbatasan jumlah produksi, Andi Bustan menilai persoalan pengaturan waktu panen juga menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas pasokan daging ayam di pasaran.
“Jika jadwal panen bisa dikelola lebih baik dan disesuaikan dengan pola permintaan masyarakat, meskipun produksi belum maksimal, setidaknya kekurangan tidak terlalu terasa dan harga bisa lebih terkendali,” pungkasnya. (MARINI/J)









