PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Palangka Raya, kehidupan terus bertumbuh. Bukan hanya dalam proses pembinaan, tetapi juga dalam wujud nyata ketahanan pangan dan kepedulian kemanusiaan yang lahir dari tangan-tangan warga binaan.

Lahan yang terbatas tidak menjadi penghalang. Di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), warga binaan menanam jagung, kangkung, dan kacang panjang. Di kolam sederhana, ikan lele dibudidayakan. Ruang yang dulu dianggap tak memiliki nilai ekonomi kini berubah menjadi sumber pangan dan harapan.

Upaya ini mencapai puncaknya saat Lapas Palangka Raya ambil bagian dalam Panen Raya Serentak Seluruh Indonesia yang digelar secara virtual dan terhubung dengan pusat panen nasional di Lapas Kelas I Cirebon. Kegiatan tersebut dihadiri langsung Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, sekaligus menandai arah baru pemasyarakatan yang lebih produktif dan berdampak luas.

Di Kalimantan Tengah, panen raya dipusatkan di Lapas Kelas IIA Palangka Raya. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalteng, I Putu Murdiana, hadir langsung bersama jajaran Kanwil, para kepala UPT pemasyarakatan di sekitar Palangka Raya, serta para mitra pembinaan.

Hasilnya bukan sekadar seremoni. Dari lahan seluas sekitar 100 meter persegi, panen jagung mencapai 50 kilogram. Kangkung dan kacang panjang masing-masing menghasilkan 40 kilogram, sementara sektor perikanan menyumbang 50 kilogram ikan lele.

“Seluruh proses produksi dikerjakan oleh warga binaan melalui sistem berkelanjutan, dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi,” kata I Putu Murdiana, Sabtu, 17 Januari 2026.

Menurutnya, panen raya ini menjadi cermin keberhasilan pembinaan yang terarah. Program pembinaan kemandirian tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan etos kerja, tanggung jawab, dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.

Di sisi lain, Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, menekankan bahwa panen raya merupakan ruang belajar yang konkret bagi warga binaan. Bagi mereka, proses menanam hingga memanen adalah latihan kemandirian sekaligus pembentukan karakter.

“Melalui program ketahanan pangan ini, kami ingin membekali warga binaan dengan keterampilan yang benar-benar bermanfaat. Harapannya, setelah bebas nanti mereka memiliki kemampuan dan semangat untuk mandiri serta berkontribusi positif di tengah masyarakat,” ujar Hisam.

Makna panen raya tidak berhenti di dalam tembok lapas. Sebagian hasil pertanian dan perikanan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas Palangka Raya. Sisanya dijual untuk menghasilkan nilai ekonomi yang dikelola secara transparan dan berkelanjutan.

Langkah ini menjadikan program pembinaan tidak hanya berdampak internal, tetapi juga memberi kontribusi nyata ke luar. Dana dari penjualan hasil panen dikonsolidasikan melalui Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah.

Dana tersebut selanjutnya disalurkan sebagai bantuan kemanusiaan bagi daerah-daerah yang terdampak bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

“Hasil penjualannya dikumpulkan melalui Kanwil Ditjenpas Kalteng dan akan disalurkan ke provinsi-provinsi yang terdampak bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh,” jelas Hisam.

Program ketahanan pangan di Lapas Palangka Raya, lanjutnya, sejalan dengan kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang mendorong pembinaan berbasis produktivitas. Lebih jauh lagi, kegiatan ini mencerminkan semangat Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan nasional dan pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Dari balik jeruji besi, warga binaan Lapas Palangka Raya tidak hanya belajar menanam dan memanen. Mereka menumbuhkan rasa tanggung jawab, menanam harapan, dan memetik makna baru tentang kontribusi. Hasil panen itu pun mengalir, menjelma menjadi bantuan bagi korban bencana, sekaligus bukti bahwa perubahan dan kepedulian bisa tumbuh dari tempat yang paling tak terduga. (MARINI/j)