BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Rana Muthia Oktari, menilai stres dampak tekanan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor dominan pemicu kekerasan terhadap anak di Palangka Raya. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan dinilai berdampak langsung pada stabilitas emosional orang tua dan kualitas pengasuhan anak.
Menurut Rana, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan tempat tinggal kerap memicu tekanan psikologis dalam keluarga. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kekerasan terhadap anak, terutama pada keluarga rentan secara ekonomi.
“Stres ekonomi membuat pengelolaan emosi orang tua menjadi tidak stabil. Dalam situasi tertekan, hal-hal kecil bisa memicu kemarahan berlebihan yang berdampak langsung pada anak,” kata Rana, Sabtu, 17 Januari 2026.
Sekretaris Komisi III DPRD Palangka Raya ini menjelaskan, anak sering kali menjadi korban tidak langsung dari konflik dan tekanan ekonomi keluarga. Kurangnya kesabaran, kelelahan mental, serta kecemasan orang tua memengaruhi pola pengasuhan dan dapat memicu tindakan kekerasan fisik maupun psikis.
Selain faktor ekonomi, Rana menyebut lemahnya dukungan sosial, minimnya pengetahuan pengasuhan, serta isolasi keluarga turut memperbesar risiko kekerasan anak di lingkungan rumah tangga. Oleh karena itu, ia menilai persoalan perlindungan anak tidak bisa dilepaskan dari isu kesejahteraan sosial (kesra).
“Stres ekonomi bukan alasan untuk melakukan kekerasan terhadap anak, tetapi menjadi indikator penting yang harus ditangani secara komprehensif dalam kebijakan perlindungan anak,” tegasnya.
Rana mendorong Pemerintah Kota Palangka Raya untuk memperkuat program kesra dan perlindungan anak melalui pemberdayaan ekonomi keluarga, pendampingan psikososial, serta edukasi pengasuhan positif. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan angka kekerasan terhadap anak dan menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan sehat. (MARINI/J)









