JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Dalam masyarakat modern, kesuksesan kerap dipahami sebagai garis lurus yang harus dilalui tanpa cela. Pendidikan tinggi, karier mentereng, jabatan prestisius—semuanya dianggap tiket menuju kebahagiaan dan kehormatan. Namun film Penerbangan Terakhir karya Benni Setiawan justru menggugat keyakinan mapan tersebut.

Lewat karakter Deva Angkasa (Jerome Kurnia), seorang kapten pilot muda dengan karier cemerlang, film ini mengajak penonton menengok sisi lain dari kesuksesan: tekanan, kepalsuan, dan rapuhnya integritas yang tersembunyi di balik seragam berkilau.

Deva adalah gambaran nyata dari fenomena psikologis yang dikenal sebagai arrival fallacy—keyakinan bahwa pencapaian puncak tertentu akan membawa kepuasan batin yang permanen. Jam terbang telah terpenuhi, empat garis emas telah melekat di pundaknya, namun ketenangan yang dijanjikan tak pernah benar-benar hadir.

Alih-alih menemukan makna, Deva justru terjebak dalam tuntutan untuk terus mempertahankan citra sempurna. Jabatan tinggi tak otomatis membentuk karakter yang kuat, terlebih ketika fondasi moral tidak dibangun seiring dengan prestasi.

Film ini secara halus mengkritik pola asuh dan sistem pendidikan yang kerap menempatkan pencapaian sebagai tujuan akhir, tanpa membekali individu dengan tanggung jawab etis setinggi ekspektasi sosial yang mengikutinya. Deva mencapai puncak karier di usia muda, tetapi mengalami gangguan kepribadian narsistik karena rapuhnya nilai moral yang menopang hidupnya.

Gengsi, Disonansi Batin, dan Jerat Citra

Konflik utama Deva bertumpu pada cognitive dissonance atau ketegangan batin. Di era media sosial, jabatan bukan sekadar profesi, melainkan identitas yang harus dipamerkan. Seorang kapten pilot dituntut tampil mapan, sukses, dan berkelas—tak peduli kondisi finansial sebenarnya.

Ketika realitas tak sejalan dengan ekspektasi, gengsi berubah menjadi penjara. Film ini menunjukkan bagaimana tekanan untuk tampil “berhasil” di hadapan calon mertua, pasangan, atau lingkungan kerja dapat mendorong seseorang pada kompromi moral yang berbahaya.

Manipulasi, kebohongan, bahkan eksploitasi emosional hadir sebagai jalan pintas yang tampak menggoda, meski perlahan menghancurkan nurani.

Otoritas, Kekuasaan, dan Manipulasi Emosi

Penerbangan Terakhir juga membedah dinamika kuasa di lingkungan profesional. Dalam psikologi dikenal istilah authority bias, yakni kecenderungan manusia untuk patuh pada mereka yang memiliki jabatan lebih tinggi.

Kokpit pesawat—ruang tertutup di ketinggian ribuan kaki—menjadi metafora kuat tentang kontrol dan dominasi. Benni Setiawan dengan cermat memperlihatkan bagaimana karisma dan otoritas bisa disalahgunakan untuk meruntuhkan nalar kritis orang lain.

Relasi Deva dengan Tiara (Nadya Arina) menampilkan praktik love bombing, pemberian perhatian berlebih yang sejatinya merupakan bentuk manipulasi. Film ini memberi peringatan bahwa sosok yang tampak sempurna sering kali menyimpan niat yang jauh dari kata tulus.

Media Sosial dan Standar Ganda Moral

Lapisan lain yang menarik adalah peran media sosial melalui karakter Nadia (Aghniny Haque). Di sini, media sosial digambarkan bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tetapi juga arena konsumsi skandal dan penghakiman massal.

Fenomena internalized misogyny—di mana perempuan justru saling menjatuhkan—ditampilkan sebagai refleksi pahit realitas digital. Opini publik digiring oleh suara paling keras, bukan oleh kebenaran yang utuh.

Film ini juga menyinggung halo effect, bias kognitif yang membuat masyarakat sulit percaya bahwa seseorang dengan karier “mulia” bisa melakukan tindakan tak etis. Akibatnya, muncul standar ganda dalam sanksi sosial: mereka yang berkuasa kerap mendapat toleransi lebih besar, sementara pihak lemah menanggung hujatan berlipat.

Diadaptasi dari cerita fiksi Gadis Pramugari karya Annastasia Anderson, Penerbangan Terakhir menunjukkan bagaimana sistem sosial sering kali justru melindungi mereka yang memiliki kuasa.

Pada akhirnya, film ini menegaskan satu pesan penting: integritas adalah satu-satunya jangkar yang mampu menjaga manusia tetap utuh saat badai datang. Kesuksesan yang dibangun di atas utang dan kebohongan hanyalah fatamorgana yang melelahkan.

Lewat Penerbangan Terakhir, penonton diajak untuk tidak mudah terpesona oleh simbol-simbol keberhasilan. Karena keberhasilan sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang bisa terbang, melainkan seberapa tegak ia mampu berdiri dengan nurani yang bersih, bahkan saat berada di daratan.

ANTARA