BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya Komisi III, Debora Holdae Veronika Lesa, menegaskan bahwa upaya pengentasan kemiskinan di daerah tidak boleh hanya mengandalkan bantuan sosial (bansos).
Menurutnya, fokus utama yang perlu ditempuh adalah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat agar dapat mencapai kemandirian dan keluar dari lingkaran kemiskinan secara berkelanjutan.
“Pengentasan kemiskinan tidak hanya mengandalkan bantuan sosial (bansos), tetapi fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat agar mandiri,” tegas Debora, Minggu, 18 Januari 2026
Ia menjelaskan bahwa bansos memiliki peran penting sebagai penyangga darurat, namun tidak dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi akar masalah kemiskinan.
Debora menyampaikan bahwa beberapa kendala yang sering muncul dalam pemberian bansos antara lain risiko ketergantungan masyarakat serta distribusi yang belum selalu tepat sasaran.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar sebagian alokasi anggaran yang awalnya diperuntukkan untuk bansos dialihkan atau dikombinasikan dengan program pemberdayaan ekonomi.
Beberapa bentuk pemberdayaan yang diusulkan antara lain pelatihan keterampilan usaha, pendanaan modal usaha mikro, serta pembinaan kelompok ekonomi masyarakat.
"Salah satu contoh program pemberdayaan yang dianggap efektif adalah pembentukan kelompok kerja sama ekonomi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis komoditas lokal," bebernya.
Debora menjelaskan bahwa dengan mengembangkan komoditas seperti kerajinan tangan Dayak, produk olahan hasil hutan, serta pertanian organik, masyarakat dapat memiliki sumber penghasilan yang stabil. Selain itu, program pemasaran bersama juga akan membantu produk lokal memasuki pasar yang lebih luas.
Untuk mendukung program pemberdayaan ekonomi ini, Debora mengajak pemerintah kota untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi untuk pengembangan teknologi dan manajemen usaha, serta lembaga keuangan mikro untuk akses pendanaan yang mudah dan terjangkau.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti pasar modern, sarana penyimpanan hasil produksi, serta akses transportasi yang memadai untuk memfasilitasi distribusi produk.
Debora berharap, dengan pergeseran fokus dari bantuan langsung ke pemberdayaan ekonomi, masyarakat Palangka Raya yang berada di bawah garis kemiskinan dapat meningkatkan kapasitas diri dan mencapai kemandirian ekonomi.
Ia menegaskan bahwa setiap langkah pemberdayaan harus disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan lokal, serta diikuti dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu menghasilkan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah,” tutupnya. (MARINI/Y)









