PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Meskipun musim kemarau di Kalimantan Tengah (Kalteng) diperkirakan baru akan mulai sekitar Juni hingga Juli 2026, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton, menyatakan bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada ketika memasuki periode tersebut, terutama saat curah hujan mulai menunjukkan tren penurunan.

Menurut Anton, faktor utama yang menjadi pemicu potensi karhutla adalah kondisi lingkungan yang semakin kering seiring dengan berkurangnya intensitas dan frekuensi hujan. Meskipun saat ini kondisi vegetasi dan tanah di sebagian besar wilayah masih lembab akibat musim hujan yang masih berlangsung, perubahan kondisi tersebut dapat terjadi dengan cepat begitu musim kemarau tiba.

Namun demikian, Anton menegaskan bahwa sejauh ini potensi terjadinya karhutla di Kalimantan Tengah masih tergolong kecil. Hal ini didukung oleh data pemantauan terkini yang menunjukkan bahwa tingkat kelembapan tanah dan vegetasi di sebagian besar kawasan hutan dan lahan masih dalam batas aman, serta belum ada indikasi titik panas yang signifikan yang mengkhawatirkan.

"Pemantauan terhadap potensi karhutla telah dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai metode. Mulai dari pemantauan citra satelit untuk mendeteksi titik panas secara real-time, hingga pengamatan langsung di lapangan pada beberapa wilayah yang dianggap berisiko lebih tinggi, seperti kawasan perbatasan lahan gambut dan area yang pernah mengalami karhutla sebelumnya" katanya, Minggu, 18 Januari 2026.

Selain pemantauan, BMKG juga telah melakukan koordinasi awal dengan berbagai pihak terkait termasuk Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta masyarakat lokal untuk menyusun langkah-langkah antisipasi. 

"Beberapa langkah yang akan diambil antara lain penyebaran informasi mengenai cara mencegah kebakaran, pembentukan tim siaga, serta persiapan sarana dan prasarana pemadam kebakaran di wilayah strategis," bebernya.

Anton mengimbau, kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menyebabkan kebakaran, seperti pembakaran lahan terbuka secara sembarangan. (MARINI/H)