BORNEONEWS, Banjarmasin - Seorang pemuda berusia 19 tahun yang berdomisili di Kecamatan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, mengungkap kisah pencarian orang tua kandung yang selama ini tersimpan rapat.
Pemuda yang kini bekerja sebagai karyawan pengisian galon tersebut baru dua hari terakhir mengetahui secara utuh kronologi masa lalunya setelah mendapat penjelasan dari seorang tetangga yang selama ini dianggap seperti keluarga sendiri.
Berdasarkan penuturan yang ia terima, pemuda tersebut dilahirkan pada tahun 2007 di salah satu rumah sakit swasta di Kota Banjarmasin. Saat itu, ibu kandungnya disebut masih berstatus mahasiswa. Beberapa hari setelah kelahiran, bayi tersebut diduga ditinggalkan di rumah sakit.
“Selama ini saya tumbuh dan dibesarkan oleh orang tua angkat dengan baik dan penuh tanggung jawab. Namun baru beberapa hari terakhir saya mengetahui cerita sebenarnya tentang asal-usul saya,” tutur pemuda tersebut kepada Borneonews, Minggu, 18 Januari 2026.
Informasi mengenai keberadaan bayi itu kemudian diketahui oleh pasangan suami istri yang kelak menjadi orang tua angkatnya. Melalui perantara, mereka diberi tahu bahwa ada seorang bayi yang telah beberapa minggu berada di rumah sakit tanpa keluarga yang menjemput. Dari situlah proses pengasuhan oleh orang tua angkat dimulai.
Beberapa waktu setelah bayi tersebut diasuh, ibu kandungnya dikabarkan sempat kembali ke rumah sakit untuk mencari anaknya. Namun pihak rumah sakit menyampaikan bahwa bayi tersebut telah diadopsi. Ibu kandung kemudian berupaya menelusuri alamat orang tua angkat hingga akhirnya mendatangi rumah mereka.
“Saya sempat berpikir bahwa saya ditinggalkan karena tidak disayangi. Tapi setelah mendengar cerita bahwa ibu kandung saya ternyata sempat mencari dan berusaha mengambil saya kembali, perasaan saya bercampur antara sedih dan harap,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, ibu angkat disebut menyampaikan keterangan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ia mengatakan bahwa bayi tersebut telah dibawa ke luar daerah, padahal faktanya anak itu masih berada di lingkungan sekitar dan sempat dititipkan kepada tetangga. Upaya ibu kandung untuk membawa kembali anaknya pun tidak membuahkan hasil.
Pemuda tersebut mengaku tumbuh dengan perlakuan yang baik dari orang tua angkatnya hingga dewasa. Meski kini bekerja sebagai karyawan pengisian galon dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti pemuda seusianya, konflik keluarga di masa lalu serta pengakuan bahwa dirinya bukan anak kandung membuat ia mulai mempertanyakan jati dirinya.
“Saya tidak menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi di masa lalu. Saya hanya ingin mengetahui kebenaran tentang jati diri saya dan berharap suatu hari bisa bertemu dengan ibu kandung saya, jika beliau masih mencari saya,” katanya.
Saat ini, pemuda yang masih tinggal di wilayah Kecamatan Handil Bakti tersebut berencana mendatangi rumah sakit tempat ia dilahirkan untuk menelusuri data kelahiran sebagai langkah awal pencarian. Ia berharap upaya ini dapat membuka jalan pertemuan kembali dengan ibu kandungnya setelah hampir dua dekade terpisah oleh keadaan dan keputusan orang dewasa di masa lalu. (SABRIANOOR/H)









