BORNEONEWS, Banajrmasin - Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, budaya Banjar menemukan ruang hidupnya di atas panggung seni. Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Kalimantan Selatan (KS3B Kalsel) menjadi salah satu penjaga penting agar nafas budaya Banjar tetap berdenyut dan tak lekang oleh waktu.
Melalui pagelaran seni yang digelar secara rutin, KS3B Kalsel menghadirkan pertunjukan yang tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga media pewarisan nilai-nilai budaya Banjar. Mulai dari Opera Banjar, Mamanda, hingga Japin Carita, setiap pertunjukan membawa cerita, bahasa, dan kearifan lokal Banua ke hadapan masyarakat.
Opera Banjar memang tidak digelar secara berkala, namun setiap kali dipentaskan selalu menjadi momentum penting. Dalam pagelaran ini, KS3B Kalsel bekerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk menampilkan kekayaan tradisi Banjar secara utuh, mulai dari dialog, musik, hingga tata artistik yang sarat makna budaya.
“Untuk Opera Banjar memang tidak rutin, tapi KS3B Kalsel rutin mengadakan pagelaran baik itu triwulan atau tahunan sesuai program kerja kami,” ungkap Siti Salwa Samsul, pengurus KS3B Kalsel bidang komunikasi dan jaringan kepada Borneonews, Minggu, 18 Januari 2026.
Selain mengangkat tradisi, KS3B Kalsel juga menjaga warisan para pendahulu. Naskah karya almarhum Abah Adjim Arijadi Putera, yang dikenal sebagai Bapak Teater Kalimantan Selatan, kerap menjadi ruh dalam pagelaran. Warisan pemikiran dan estetika tersebut terus dihidupkan dan disesuaikan dengan konteks zaman.
Menariknya, KS3B Kalsel tidak menutup diri dari perkembangan modern. Teater modern tetap dihadirkan, namun selalu berpijak pada nilai lokal.
“Untuk pagelaran tidak tentu, bisa teater modern atau tradisi budaya Banjar, tergantung konsep yang kami diskusikan,” kata Salwa.
Dalam setiap pagelaran, pertunjukan biasanya digelar dua kali, sore dan malam, untuk memberi ruang lebih luas bagi masyarakat menikmati seni Banua. Untuk pagelaran mandiri, tiket diberlakukan sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan seni, sementara kerja sama dengan pemerintah membuka akses gratis bagi publik.
Panggung utama KS3B Kalsel kerap berada di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan, ruang yang menjadi saksi hidup perjalanan seni Banjar. Momentum penting lainnya hadir setiap bulan November, bertepatan dengan hari lahir sanggar, yang selalu diisi dengan pagelaran penuh makna budaya.
Lewat konsistensi dan kolaborasi, KS3B Kalsel membuktikan bahwa budaya Banjar bukan sekadar warisan, tetapi identitas hidup yang terus dirawat. Di atas panggung, budaya Banjar berbicara, bernyanyi, dan bercerita untuk menyapa zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (SABRIANOOR/H)









