KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Di tengah arus modernisasi yang nyaris menenggelamkan seni tradisi Banjar, satu lakon teater tetap bertahan dan terus bernapas hingga hari ini.

Namanya Saruni, sebuah karya monumental yang lahir dari kegelisahan akan punahnya budaya tutur Banjar, namun justru tumbuh menjadi simbol perlawanan kultural yang luar biasa.

Akhir dekade 1980-an menjadi masa suram bagi banyak kesenian Banjar. Tradisi lisan seperti Basyairan, Ba Andi-Andi, Badundam, hingga Balamut mulai kehilangan ruang dan penonton.

Di saat yang sama, teater Barat semakin mendominasi panggung pertunjukan. Budaya lokal melemah, nyaris terpinggirkan oleh zaman yang berubah cepat.

Dalam situasi itulah H. Adjim Arijadi mengambil peran penting. Pada 1988, ia menulis lakon Saruni dengan pendekatan yang berani. Seluruh dialog disusun dalam bentuk syair Banjar, sebuah medium sastra lisan yang dahulu sangat akrab di telinga masyarakat.

Langkah ini bukan sekadar artistik, melainkan upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif orang Banjar.

Lakon Saruni kemudian tampil sebagai paket seni yang utuh dan kaya. Di dalamnya berpadu syair Banjar, musik panting, elemen wayang gung, serta cerita folklor pesisir, membentuk sebuah opera lokal yang kuat secara identitas dan estetika.

Keotentikan inilah yang membuat Saruni tidak sekadar tontonan, tetapi juga penanda jati diri budaya Banjar.

Keberhasilan Saruni terbukti lewat perjalanannya di berbagai panggung bergengsi. Lakon ini tampil dalam Festival Opera Banjar 1990, dipentaskan di Hotel Istana Barito, hadir dalam agenda Refleksi Setengah Abad Republik Indonesia di Surakarta, hingga menyapa penonton di Tenggarong dan Samarinda.

Bahkan pada 1996, Saruni difilmkan melalui produksi TVRI Kalimantan Selatan, dan kembali menggaung di Festival Cak Durasim Surabaya tahun 2003.

Menurut Hijromi Arijadi Putra, narasumber dari Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Kalimantan Selatan (KS3B Kalsel), Saruni bukan sekadar kisah romantis atau kepahlawanan. 

“Saruni adalah perjuangan menjaga identitas Banjar. Ini karya yang lahir dari kecemasan akan hilangnya tradisi, dan sampai hari ini tetap relevan untuk generasi baru,” tuturnya.

Kekuatan Saruni terletak pada keberhasilannya mengangkat sastra lisan Banjar ke panggung opera yang megah tanpa kehilangan ruh tradisinya. 

“Lakon ini membuktikan bahwa sastra lisan Banjar bisa tampil modern, memikat, dan tetap berpijak pada akar budaya,” ujar Hijromi.

Semangat itu kembali diwujudkan pada akhir tahun 2025, ketika Saruni dipentaskan ulang dengan kemasan baru oleh KS3B Kalsel. Pementasan berlangsung pada Desember 2025, di Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin, dalam rangka Banua Creative Festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan. 

Siti Salwa Samsul dari pengurus Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Kalsel Bidang Komunikasi dan Jaringan menyebutkan bahwa Pagelaran Opera Banjar Saruni Pahlawan Bajau tahun 2025 tersebut bersifat kolosal karena melibatkan kolaborasi lintas komunitas seni di Banjarmasin.

"Mulai dari KS3B Kalsel, Teater Langit Jingga, Sanggar Seni Nuansa, Nuansa Musik Ansambel, UKM Tari Marindang Budaya PGSD–PG PAUD ULM Banjarmasin, Sanggar Seni Demokrat, Sanggar Bahana Antasari, Teater Ganesha, hingga Teater Banjarmasin, yang bersatu menghadirkan kekuatan artistik kolektif dalam satu panggung budaya Banjar," ucapnya.

Pementasan tersebut tercatat sebagai kolaborasi terbesar sepanjang sejarah perjalanan lakon Saruni, menandai bahwa seni tradisi Banjar masih hidup, tumbuh, dan terus menemukan panggungnya. (SABRIANOOR/R)