BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mencatat harga bahan pokok di wilayah setempat masih mengalami fluktuasi pada minggu kedua Januari 2026.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop UKM Kobar, Muhammad Suhendra, Senin, 19 Januari 2026 mengatakan, pemantauan harga dilakukan untuk periode 12 hingga 15 Januari 2026 di sejumlah pasar tradisional di Kobar.
“Secara umum harga bahan pokok masih fluktuatif, namun pasokan relatif cukup sehingga sebagian komoditas justru mengalami penurunan harga,” jelas Muhammad Suhendra.
Muhammad Suhendra menjelaskan, dibandingkan minggu pertama Januari 2026, beberapa komoditas menunjukkan perubahan harga yang cukup signifikan. Untuk bawang putih tercatat mengalami perubahan sebesar 0,61 persen, dari Rp45.000 per kilogram menjadi Rp40.000 per kilogram.
“Secara nominal memang turun, meski dalam rekap persentase tercatat kenaikan. Ini karena perhitungan berbasis rata-rata harian,” jelas Muhammad Suhendra.
Sementara itu, menurut Muhammad Suhendra harga daging ayam ras (boiler) justru mengalami kenaikan sebesar 2,94 persen, dari Rp45.000 per kilogram menjadi Rp47.000 per kilogram.
“Untuk ayam boiler, tren hariannya juga cenderung naik karena permintaan yang meningkat,” jelas Muhammad Suhendra.
Untuk komoditas cabai, menurut Muhammad Suhendra Disperindagkop UKM Kobar mencatat penurunan harga pada beberapa jenis. Cabai merah besar turun 2,34 persen, dari Rp70.000 per kilogram menjadi Rp60.000 per kilogram. Cabai rawit merah bahkan turun paling signifikan, yakni 9,72 persen, dari Rp70.000 per kilogram menjadi Rp60.000 per kilogram.
Selain itu, harga bawang merah juga mengalami penurunan sebesar 1,44 persen, dari Rp55.000 per kilogram menjadi Rp50.000 per kilogram.
“Penurunan ini dipengaruhi oleh pasokan yang mulai lancar dari daerah sentra produksi. Untuk komoditas lain, harga cabai merah keriting masih stabil di kisaran Rp60.000 per kilogram, dan cabai rawit hijau juga stabil di harga Rp100.000 per kilogram. 2 jenis cabai ini belum menunjukkan perubahan harga pada minggu kedua Januari,” jelas Muhammad Suhendra.
Muhammad Suhendra menambahkan bahwa fluktuasi harga cabai sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan kondisi pasokan dari sentra produksi.
“Kalau cuaca kurang bersahabat, produksi bisa terganggu, sehingga harga mudah naik. Namun saat ini pasokan relatif cukup, makanya banyak harga yang justru turun,” kata Muhammad Suhendra.
Muhammad Suhendra menjelaskan Disperindagkop UKM Kobar, akan terus melakukan pemantauan rutin untuk menjaga stabilitas harga bapok di pasaran.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan pasokan agar masyarakat tidak terlalu terbebani dengan lonjakan harga,” pungkasnya. (WAHYU KRIDA/j)









