SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Warga di lima RT Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengeluhkan bau menyengat yang berasal dari aktivitas pengolahan dan bongkar limbah sawit di PT Sampit sekitar jalan Iskandar dan Jalan Ir Juanda.

“Ada lima RT yang terdampak bau dari pengolahan limbah di sini yaitu RT 12, 59, 60, 36, dan 11 aroma baunya itu tergantung arah angin,” kata Ketua RT 12 Kelurahan Ketapang Jamal Fahmi, Senin, 19 Januari 2026.

Ia mengungkapkan, warga awalnya tidak mendapatkan informasi terkait aktivitas pengolahan limbah tersebut. Bau menyengat muncul secara tiba-tiba dan sempat disangka berasal dari lingkungan sekitar.

“Memang Aktivitas ini kami tidak tahu, dari perusahaan tidak memberikan informasi tiba-tiba ada bau. Awalnya saya mengira WC tetangga bocor, rupanya ada warga yang bilang sumber baunya ini dari PT Sampit, Berarti ada kegiatan di sana,” ujarnya.

Menurut Jamal, aroma yang ditimbulkan lebih parah dibandingkan aktivitas karet sebelumnya dan sangat mengganggu warga.

“Baunya ini lebih parah daripada saat aktivitas karet. Baunya seperti WC bocor tidak nyaman. Baunya yang sangat menyengat itu muncul ketika ada bongkar limbah sawit,” tambahnya.

Ia mengatakan, warga sudah pernah menyampaikan keluhan dan sempat dilakukan pertemuan yang melibatkan pihak pengelola, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta pihak kecamatan. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret.

“Pernah kemarin saat ada keluhan kita bertemu pengelolanya, DLH dan kecamatan juga turun tetapi tidak nyambung, tidak ada solusi. ini sudah kedua kalinya aduan itu,” katanya.

Keluhan pertama sekitar sebulan lalu tersebut bahkan sempat viral di media sosial. Saat itu DLH turun ke lokasi, namun bau masih tetap terasa saat aktivitas bongkar limbah berlangsung.

“Kalau tidak ada aktivitas Bongkar limbah itu masih ada bau tetapi berkurang dan bercampur aroma-aroma pewangi seperti downy,” lanjut Jamal.

Meski demikian, ia menegaskan tidak menolak keberadaan investasi karena akan berdampak positif terhadap perekonomian sekitar. Namun ia berharap aktivitas perusahaan tidak merugikan lingkungan.

“Ini sebenarnya kan investasi asalkan jangan mengganggu masyarakat sekitar jangan sampai berbau. Bagaimana caranya agar tidak mengganggu masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua RT 60 Nadi menyampaikan, aktivitas pengolahan limbah sawit tersebut sudah berjalan sekitar dua bulan terakhir, meski persiapannya telah terlihat sejak beberapa bulan sebelumnya.

“Ini sudah beroperasi sekitar 2 bulan Tetapi kalau persiapan sudah terlihat sekitar setengah tahun/6 bulan yang lalu,” ujarnya.

Selain solusi lingkungan agar bau tidak terus berulang muncul, ia juga berharap keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar, khususnya dalam hal kesempatan kerja.

“Berharap warga turut dilibatkan dalam bekerja di sini karena selama ini warga banyak menganggur belum dapat pekerjaan tergantung jika ada kapal. Kalau sementara selama ini bekas karyawan PT Sampit juga yang dipekerjakan,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI)