BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa kelapa sawit bukanlah komoditas pertanian monokultur terluas di dunia. Bahkan, menurutnya, kelapa sawit justru memiliki kontribusi positif terhadap pelestarian keanekaragaman hayati atau biodiversitas global.
“Selama ini persepsi yang berkembang di masyarakat kerap menyudutkan kelapa sawit sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan. Padahal, jika kita melihat data dan kajian ilmiah, justru sebaliknya,” ujar Eddy pada Selasa, 20 Januari 2026.
Eddy merujuk pada data United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2022 yang menunjukkan bahwa luas areal tanaman gandum secara global mencapai 221 juta hektare, jagung 202 juta hektare, dan padi 167 juta hektare.
Sementara itu, tanaman minyak nabati seperti kedelai mencapai 130 juta hektare, rapeseed 37,8 juta hektare, bunga matahari 28,4 juta hektare, dan kelapa sawit hanya 25 juta hektare.
“Dari data tersebut, jelas bahwa kelapa sawit bukanlah tanaman monokultur terluas. Bahkan, luasnya jauh di bawah komoditas lain seperti gandum, jagung, dan kedelai,” tegas Eddy.
Dia menjelaskan bahwa sistem budidaya kelapa sawit tidak sepenuhnya monokultur. Pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM), petani menanam tanaman penutup tanah seperti kacang-kacangan di sela-sela pohon sawit. Selain itu, banyak pelaku usaha yang menerapkan sistem integrasi sawit dengan tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, hingga peternakan.
“Budidaya sawit berkembang menjadi sistem polikultur yang mendukung pelestarian biodiversitas dan menjadi solusi untuk mencegah degradasi lahan serta menurunkan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
Eddy juga mengutip hasil studi Beyer et al. (2020) dan Beyer & Rademacher (2021) yang menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki tingkat kehilangan biodiversitas (species richness loss/SRL) paling rendah dibandingkan minyak nabati lainnya.
SRL minyak kedelai tercatat 284 persen lebih tinggi dari minyak sawit, rapeseed 179 persen, dan bunga matahari 144 persen.
“Artinya, setiap liter minyak sawit yang dihasilkan memberikan dampak lingkungan yang jauh lebih kecil dibandingkan minyak nabati lain,” tambah Eddy.
Ia juga menyoroti bahwa seiring bertambahnya usia tanaman, perkebunan kelapa sawit mengalami pertumbuhan biodiversitas secara alami.
Studi Santosa et al. (2017) bahkan menunjukkan bahwa jumlah jenis biodiversitas di perkebunan sawit dewasa tidak selalu lebih rendah dibandingkan lahan sebelum ditanami sawit maupun kawasan hutan bernilai konservasi tinggi.
“Dengan siklus hidup 25–30 tahun, perkebunan sawit memungkinkan pemulihan biodiversitas yang menyerupai ekosistem hutan. Ini adalah fakta ilmiah yang perlu diketahui publik,” pungkas Eddy.(TESTI PRISCILLA)









