BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pendidikan (Disdik) Kalimantan Tengah menetapkan penguatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), coding, serta penerapan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sebagai fokus utama kebijakan pendidikan tahun 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Disdik Kalteng, Reza Prabowo, mengatakan arah kebijakan ini menekankan peningkatan kapasitas guru dan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan global.
“Penguasaan AI, coding, dan STEM bukan lagi pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan. Pendidikan di Kalteng harus siap menjawab tantangan zaman,” ujar Reza di Palangka Raya, Selasa, 20 Januari 2026.
Ia menegaskan, guru dituntut mulai terbiasa memanfaatkan teknologi, termasuk AI dan coding, dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pendekatan STEM tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus diterapkan secara nyata di sekolah.
“Kalau di pusat orang masih banyak bicara konsep STEM, kita di daerah harus sudah bicara implementasinya. STEM harus berdampak dan bisa dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Disdik Kalteng mendorong pembentukan Research Club di setiap satuan pendidikan. Melalui wadah ini, setiap sekolah ditargetkan mampu menghasilkan minimal satu riset atau inovasi setiap tahun.
“Yang melakukan riset adalah peserta didik. Guru berperan sebagai pembimbing, menyesuaikan dengan karakter dan potensi sekolah masing-masing,” jelas Reza.
Untuk jenjang SMA, riset diarahkan pada kolaborasi lintas mata pelajaran, seperti biologi, fisika, dan kimia, guna menghasilkan kajian berbasis sains. Sementara itu, Sekolah Khusus (SKH) diharapkan mampu menggali keunggulan dan kekhasan peserta didik untuk dikembangkan menjadi inovasi yang bernilai.
Reza juga mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber riset dan inovasi. Menurutnya, ide pengembangan produk dapat berangkat dari lingkungan sekitar siswa.
“Potensi daerah itu luar biasa. Di Basarang misalnya, nanas sangat melimpah. Tidak menutup kemungkinan ke depan muncul inovasi produk dari nanas. Jangan pernah ragu untuk berkreasi,” ungkapnya.
Adapun untuk jenjang SMK, pengembangan riset dan inovasi difokuskan pada kompetensi keahlian masing-masing, seperti teknologi jaringan, rekayasa, dan bidang vokasi lainnya. Disdik Kalteng bahkan menargetkan penerapan konsep one school one product sebagai standar minimal inovasi di setiap sekolah.









