SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bus Perintis Damri memberikan dampak positif bagi masyarakat wilayah utara dan selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Layanan transportasi bersubsidi ini mampu meringankan biaya perjalanan, terutama bagi warga yang selama ini bergantung pada transportasi komersial dengan tarif tinggi.

Untuk wilayah selatan Kotim, layanan Bus Perintis Damri rute Sampit–Samuda–Ujung Pandaran masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Kepala UPTD Terminal Patih Rumbih Sampit, Jonnie Erfadieyan Noor, menjelaskan bahwa rute tersebut merupakan pengembangan dari trayek sebelumnya.

“Awalnya kita hanya memiliki trayek Sampit–Samuda. Karena masa kontrak perintis habis, kemudian diperpanjang menjadi rute Sampit–Samuda–Ujung Pandaran sekitar pertengahan tahun 2025, dan sampai sekarang masih tetap berjalan,” ujarnya, Rabu, 21 Januari 2026.

Menurut Jonnie, minat penumpang tergolong tinggi, terutama dari Samuda dan Ujung Pandaran. Faktor utama yang mendorong antusiasme masyarakat adalah tarif bus perintis yang lebih murah dibandingkan jasa travel komersial.

“Antusiasme cukup besar karena bus perintis ini jauh lebih terjangkau. Namun memang armada yang digunakan sudah cukup tua, sehingga operasionalnya terkadang terkendala,” katanya.

Dalam kondisi normal, bus beroperasi setiap hari dengan kapasitas 29 kursi, dan rata-rata tingkat keterisian mencapai 20 hingga 25 penumpang per perjalanan.

Untuk tarif, terjadi penyesuaian harga. Tarif Sampit–Samuda naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000, sementara Sampit–Ujung Pandaran dari Rp25.000 menjadi Rp30.000.

Jam operasional dimulai dari Sampit menuju Samuda dan Ujung Pandaran pada pukul 08.00 WIB, kemudian perjalanan balik dari Ujung Pandaran–Samuda–Sampit pada pukul 12.00 WIB, serta keberangkatan tambahan dari Sampit pada pukul 13.00 WIB.

Sementara itu, untuk wilayah utara Kotim, Bus Perintis Damri rute Sampit–Telaga Antang mulai beroperasi sejak 19 Januari 2026. Rute ini merupakan perpanjangan trayek sebelumnya yang hanya sampai Parenggean, dan dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat pedalaman.

Driver Bus Perintis Damri, Donny Martin, mengatakan bahwa pada tahap awal operasional masih menggunakan satu unit armada.

“Keberangkatan dari Sampit pukul 08.00 WIB dan diperkirakan tiba di Telaga Antang sekitar pukul 13.00 WIB jika tidak ada kendala. Kemudian bus kembali berangkat dari Telaga Antang pukul 14.00 WIB dan tiba di Sampit sekitar pukul 18.00 WIB,” jelas Donny.

Damri berencana mengoperasikan dua unit bus jika armada tambahan sudah tersedia. Penyesuaian jadwal akan dilakukan seiring kedatangan armada tersebut.

Dalam perjalanannya, bus perintis Damri tetap singgah di Parenggean, mengingat tingginya minat penumpang dari wilayah tersebut selain Telaga Antang. Respons masyarakat dan pemerintah kecamatan setempat pun dinilai cukup positif.

Bus yang dioperasikan memiliki kapasitas 19 kursi. Titik turun penumpang bersifat fleksibel, dengan titik keberangkatan dari Kantor Kecamatan Telaga Antang dan Loket Damri Parenggean.

Donny menjelaskan bahwa pembukaan trayek Telaga Antang merupakan aspirasi langsung masyarakat, mengingat layanan bus perintis ini mendapatkan subsidi dari pemerintah.

“Usulan datang dari masyarakat, disampaikan ke dinas terkait, lalu Damri menjalankan operasionalnya,” ujarnya.

Untuk tarif, Sampit–Telaga Antang ditetapkan sebesar Rp40.000, sementara Sampit–Parenggean Rp30.000. Tarif ini dinilai sangat terjangkau jika dibandingkan dengan travel komersial yang bisa mencapai Rp150.000.

“Untuk Parenggean, peminatnya memang sangat tinggi dan sering penuh karena selisih tarifnya jauh dibandingkan travel,” katanya.

Menurut Donny, kepadatan penumpang biasanya terjadi pada hari Jumat, saat pegawai libur. Meski rute Telaga Antang masih dalam tahap sosialisasi, potensi keterisian penumpang dinilai cukup besar. (DEWI PATMALASARI/R)