SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menegaskan posisinya sebagai kontributor terbesar produksi kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan data rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) setempat produksi kelapa sawit Kotim pada tahun 2024 mencapai 2.077.633,48 ton atau menyumbang sebesar 26,68 persen dari total produksi kelapa sawit di provinsi tersebut.

"Data itu Bersumber dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah yang dirilis dalam publikasi angka 2025," kata Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, Rabu, 21 Januari 2026.

Ia mengungkapkan produksi kelapa sawit Kotawaringin Timur pada tahun 2024 sebesar 2.077.633,48 ton, naik sebanyak 1.610,97 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2.076.022,51 ton.

Dengan capaian ini, Kotim menempati posisi teratas sebagai daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Kalimantan Tengah, diikuti Kabupaten Seruyan yang berada pada urutan kedua.

Selain menjadi produsen terbesar, Kotim juga tercatat memiliki areal perkebunan kelapa sawit terluas di provinsi ini, yaitu sebesar 4.621,26 kilometer persegi. 

“Sebanyak 24,9 persen dari total areal perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berada di Kotawaringin Timur,” sebutnya. 

Data tersebut menempatkan lima kabupaten dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas di Kalimantan Tengah dengan peringkat pertama adalah Kotim yaitu 4.621,26 Km², disusul Seruyan dengan luas 4.425,47 Km², Kotawaringin Barat seluas 2.776,84 Km², Lamandau 1.474,56 Km² dan Kapuas 1.346,33 Km². Luas areal yang dicatat meliputi perkebunan besar negara, swasta, serta perkebunan rakyat.

"Dengan peran strategis ini, Kotim terus berkontribusi dalam pengembangan sektor kelapa sawit yang sangat penting bagi perekonomian daerah dan provinsi,” imbuhnya. 

Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk menjaga keberlanjutan produksi kelapa sawit ke depan.

Kontribusi produksi dan luas areal perkebunan kelapa sawit ini menunjukkan posisi vital Kotim dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah sekaligus menjadi indikator potensi besar bagi pengembangan sektor agribisnis di wilayah tersebut. (DEVIANA/j)