PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala OJK Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara), Parjiman, yang juga Koordinator OJK se-Kalimantan, menyampaikan bahwa perbankan daerah di Kalimantan menunjukkan kinerja yang secara umum terus meningkat hingga akhir November 2025. Saat ini Kalimantan memiliki 4 Bank Pembangunan Daerah atau BPD, 51 Bank Perekonomian Rakyat atau BPR, dan 3 Bank Perekonomian Rakyat Syariah atau BPRS.

“Secara agregat, sektor perbankan daerah masih mampu menjaga stabilitas dan fungsi intermediasi,” kata Parjiman pada Rabu, 21 Januari 2026.

Parjiman menjelaskan, total aset BPD di Kalimantan tercatat sebesar Rp133,69 triliun atau tumbuh 4,64 persen year on year (yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp102,46 triliun atau naik 5,83 persen (yoy), serta penyaluran kredit sebesar Rp62,81 triliun yang meningkat 3,22 persen (yoy).

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa BPD tetap konsisten memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan daerah,” katanya.

Meski demikian, Parjiman mengakui bahwa perbankan daerah masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas kredit. Posisi Non Performing Loan (NPL) gross pada November 2025 tercatat sebesar 5,02 persen.

“Kami terus mendorong perbaikan kinerja perkreditan agar risiko dapat ditekan, sehingga kualitas intermediasi semakin baik,” jelasnya.

Dari sisi likuiditas, perbankan daerah di Kalimantan dinilai masih terjaga dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Current Account Saving Account (CASA) yang berada di kisaran 60 hingga 80 persen. Menurut Parjiman, kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan daerah memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif.

“Likuiditas yang sehat menjadi modal penting bagi perbankan dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan,” tambahnya.

Parjiman juga menyoroti adanya fluktuasi jumlah BPR dan BPRS di Kalimantan. Beberapa bank saat ini tengah melakukan perbaikan tata kelola dan efisiensi melalui program penggabungan atau peleburan usaha.

“Hal ini berdampak pada jumlah BPR yang menurun dari 53 pada akhir 2023 menjadi 51 pada akhir 2025, namun langkah ini diharapkan dapat memperkuat struktur perbankan rakyat di Kalimantan,” terangnya. (TESTI PRISCILLA/j)