PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) memperkuat pengelolaan program pascasarjana dengan membentuk fakultas tersendiri. Langkah ini ditempuh sebagai strategi untuk memfokuskan pendidikan magister dan doktoral pada pencetakan lulusan berkarakter peneliti yang berkualitas, kritis, dan berdaya saing.

Direktur Program Pascasarjana UMPR, M Rizki Fadhil Pratama, mengatakan pembentukan Fakultas Pascasarjana menjadi bagian dari upaya penyelarasan standar akademik lintas program studi sekaligus memperkuat orientasi riset di lingkungan pascasarjana.

“Kebijakan ini kami ambil agar tidak terjadi ketimpangan standar akademik antarpogram studi. Semua mahasiswa pascasarjana harus memiliki kemampuan riset yang setara dan kuat,” ujar Rizki, Rabu, 21 Januari 2026.

Ia menegaskan, meskipun kurikulum pascasarjana UMPR masih bersifat konvensional, arah utama pembelajaran difokuskan pada capaian riset mahasiswa. UMPR menargetkan lulusan pascasarjana tidak hanya menyelesaikan tesis atau disertasi, tetapi juga menghasilkan luaran ilmiah yang konkret.

“Kami ingin lulusan UMPR menjadi peneliti. Mahasiswa diarahkan menghasilkan artikel jurnal, menjadi pemakalah seminar nasional maupun internasional, hingga menghasilkan kekayaan intelektual,” katanya.

Setiap semester, mahasiswa pascasarjana diwajibkan menghasilkan karya ilmiah sesuai karakter masing-masing program studi, mulai dari artikel jurnal, policy brief, media pembelajaran, hingga bentuk karya ilmiah lainnya.

Selain penguatan akademik, Fakultas Pascasarjana UMPR juga berkomitmen melakukan penyederhanaan birokrasi. Struktur kelembagaan yang lebih ringkas diharapkan dapat mempercepat layanan administrasi akademik bagi mahasiswa.

“Mahasiswa tidak lagi disibukkan dengan urusan administratif yang berbelit. Kami ingin mereka fokus pada riset dan pengembangan keilmuan,” jelas Rizki.

Dari sisi pembelajaran, UMPR menerapkan sistem fleksibel dengan memadukan perkuliahan daring dan luring. Skema ini disesuaikan dengan karakter mahasiswa pascasarjana yang sebagian besar berasal dari kalangan profesional, praktisi, maupun birokrat.

Sementara itu, Rektor UMPR Muhamad Yusuf menyatakan sentralisasi program magister dan doktor merupakan bagian dari visi besar UMPR dalam membangun pendidikan tinggi berbasis riset.

“Program pascasarjana UMPR kami desain berbasis riset murni. Suasana akademiknya adalah suasana penelitian, dengan dosen dan mahasiswa diposisikan setara sebagai peneliti,” katanya.

Menurut dia, mahasiswa dipandang sebagai peneliti pemula, sedangkan dosen berperan sebagai mentor. Dari proses tersebut diharapkan lahir pengetahuan dan temuan baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

UMPR juga memastikan masa studi yang efisien tanpa mengganggu aktivitas profesional mahasiswa. Saat ini, UMPR memiliki enam program studi pascasarjana, yakni Magister Administrasi Publik, Magister Pendidikan Dasar, Magister Ilmu Pertanian, Magister Pendidikan Agama Islam, Magister Pedagogik, serta Program Doktor Pendidikan.

“Program magister ditargetkan selesai dalam empat semester dan program doktor enam semester, dengan pendampingan intensif agar mahasiswa lulus tepat waktu,” ujar Yusuf.

Ke depan, UMPR menargetkan pembukaan empat program studi baru, yakni Magister Teknik Sipil, Magister Komunikasi Pembangunan, Magister Hukum Keluarga, serta Doktor Administrasi Publik.

“Melalui penguatan kelembagaan dan pembelajaran berbasis riset, UMPR optimistis pascasarjana menjadi pusat lahirnya peneliti dan pemikir strategis yang mampu menjawab tantangan lokal hingga global,” pungkasnya.

ANTARA