JEDDAH –

BORNEONEWS, Sampit – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Susilo mengungkapkan kekhawatiran terkait penurunan drastis populasi sarang burung walet di daerah ini. 

“Yang pasti, sarang burung walet di Kotim yang dulunya menghasilkan ribuan ton sekarang berkurang sangat jauh,” katanya, Rabu, 21 Januari 2026.

Fenomena penurunan ini, sebut Susilo, merupakan hilangnya potensi daerah yang sangat besar. Sarang burung walet memang sekarang hilang seperti ditelan bumi.

Kondisi ini juga berdampak pada banyak pengusaha yang terpaksa gulung tikar karena ketidakjelasan tersebut, "Sehingga banyak bangunan sarang burung walet yang kini kosong tanpa isi," ucapnya. 

Namun terkait hal ini, ada yang lebih menjadi perhatian, banyak bangunan gedung sarang burung walet di daerah tersebut sebagian besar tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). 

“Kami di Kadin pernah mengajak teman-teman pengusaha dan masyarakat yang memiliki sarang burung walet untuk mengurus izin mendirikan bangunan,” ujar Susilo. 

Dia mengungkapkan, masyarakat yang memiliki bangunan tersebut cukup berminat untuk membuat izin namun sayangnya terkendala oleh sulitnya dalam pengurusan izin. 

"Kami sudah berkeliling di 17 kecamatan, tapi hanya beberapa yang mau mengurus IMB-nya, bahkan sampai sekarang nihil. Terus kecamatan juga tidak ada tindak lanjutnya," ungkapnya. 

Menurut Susilo, upaya untuk menggali potensi sarang burung walet tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja, seperti Badan Pengelolaan dan Pendapatan Daerah (Bappenda). 

“Ini tanggung jawab semua elemen, bukan hanya Bappenda saja. Kadin berperan sebagai fasilitator dan penengah, tapi eksekusinya ada di pemerintah daerah,” pungkasnya.

Perbaikan regulasi dan koordinasi yang lebih baik, potensi sarang burung walet bisa kembali dimanfaatkan secara optimal dan memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan dan pendapatan daerah di Kotawaringin Timur. (DEVIANA/R)