PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman menegaskan bahwa minyak sawit kini memegang peran strategis dalam struktur konsumsi minyak nabati dunia.

Setiap negara memiliki pola konsumsi yang berbeda-beda, dipengaruhi sejarah, preferensi, dan ketersediaan sumber daya. Namun pada tingkat global, keberagaman jenis minyak nabati justru memperkuat ketahanan pangan internasional.

Eddy menjelaskan dalam sejarahnya konsumsi minyak nabati utama dunia telah mengalami pergeseran signifikan.

Pangsa minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati global terus meningkat dan semakin mendominasi dari tahun ke tahun.

“Minyak sawit merupakan salah satu bahan pangan sumber energi dan lemak yang telah dikonsumsi sepanjang peradaban manusia. Peran sebagai penyedia bahan pangan adalah peran tertua dan paling utama dari industri sawit,” ujarnya, mengutip kajian PASPI pada Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menambahkan, berbagai studi menunjukkan bahwa minyak sawit dikonsumsi hampir di seluruh negara dunia, baik sebagai bahan pangan maupun untuk kebutuhan industri.

“Ini menegaskan bahwa minyak sawit bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi sudah menjadi bagian penting dari sistem pangan global,” kata Eddy, merujuk temuan Tungkot Sipayung dalam buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia.

Menurut Eddy, dominasi minyak sawit dalam struktur konsumsi dunia baru menguat dalam beberapa dekade terakhir.

Pada 1965, minyak kedelai masih mendominasi konsumsi global sebesar 61 persen, disusul minyak rapeseed 23 persen, minyak sawit 16 persen, dan minyak bunga matahari satu persen. Namun pada 2021, minyak sawit justru menempati posisi teratas dengan pangsa 40 persen, melampaui minyak kedelai yang berada di angka 33 persen.

Kenaikan pangsa konsumsi minyak sawit juga terjadi di berbagai kawasan utama dunia. Di Uni Eropa, misalnya, konsumsi minyak sawit meningkat dari 24 persen pada 2000 menjadi 29 persen pada 2021.

Di Amerika Serikat, meskipun minyak kedelai tetap dominan, penggunaan minyak sawit naik dari tiga persen menjadi 10 persen dalam periode 1980–2021.

Sementara di China, pangsa minyak sawit tumbuh hingga 19 persen pada 2021, seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi. Eddy menilai pergeseran pola konsumsi ini merupakan pilihan yang realistis dan rasional.

“Produktivitas minyak sawit jauh lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain, sehingga secara lahan dan biaya lebih efisien. Ini membuat minyak sawit lebih berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsumsi minyak sawit per kapita dunia sebagai bahan pangan juga terus meningkat dan kini menyumbang sekitar 30 persen dari total konsumsi minyak nabati global.

Dengan tren tersebut, Eddy Abdurrahman menegaskan bahwa minyak sawit akan tetap menjadi tulang punggung ketahanan pangan global di masa depan.

"Tantangannya sekarang adalah memastikan pengelolaannya semakin berkelanjutan, ramah lingkungan, dan diterima secara sosial, agar peran strategis minyak sawit ini dapat terus dipertahankan,” pungkasnya.(TESTI PRISCILLA)