PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua DPRD Palangka Raya, Subandi mengemukakan dorongan yang tegas untuk memperkuat peran sekolah sebagai benteng utama moral dan kebangsaan bagi generasi muda di kota ini.

Di tengah ancaman penyebaran paham kekerasan yang semakin menyasar kelompok muda, ia menekankan bahwa sekolah tidak hanya bertugas sebagai tempat pembelajaran akademik, tetapi juga harus berperan secara kritis dalam mencegah dan mendeteksi dini adanya pengaruh ideologi yang merusak nilai-nilai bangsa.

"Sekolah tidak hanya fokus pada pencapaian target akademik namun dapat membangun karakter dan kesadaran kebangsaan yang kuat, sehingga tidak memberikan ruang bagi paham-paham asing yang mengandung unsur kekerasan untuk meresap secara perlahan, "katanya, Kamis, 22 Januari 2026.

Upaya pencegahan yang dilakukan kata Dibanding sekolah meningkatkan integrasi antara pendidikan karakter, pendidikan kewarganegaraan, dan pemantauan aktif terhadap dinamika sosial di kalangan siswa. 

Semua sekolah Palangka Raya didorongnya memiliki sistem deteksi dini yang terstruktur untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal terpengaruhnya siswa oleh paham kekerasan, seperti perubahan perilaku, munculnya ungkapan yang memecah belah, atau minat terhadap konten yang mengandung kekerasan dan radikalisme.

"Peran guru dan tenaga pendidik sebagai ujung tombak dalam membendung penyebaran paham kekerasan juga perlu mendapatkan dukungan yang lebih kuat," dorongnya. 

Ia meminta kepada Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya agar guru diberikan pelatihan khusus tentang cara mengenali, menangani, dan mencegah penyebaran ideologi kekerasan di lingkungan sekolah. 

Selain itu, perkuat koordinasi antara sekolah dengan pihak kepolisian, dinas pendidikan, dan masyarakat juga menjadi kunci utama dalam menangani kasus yang muncul dengan cepat dan tepat.

Subandi menegaskan bahwa penguatan peran sekolah sebagai benteng moral dan kebangsaan tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh lembaga pendidikan saja.

Dibutuhkan kerja sama sinergis antara pemerintah daerah, dinas terkait, organisasi masyarakat, dan orang tua siswa untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. 

"Hal ini mencakup penyusunan kurikulum yang lebih mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, penyediaan fasilitas pendukung untuk aktivitas karakter building, serta pembentukan tim khusus yang menangani masalah paham kekerasan di sekolah," tegasnya. 

Ia meminta sekolah harus benar-benar menjadi benteng yang kokoh, tidak hanya melindungi generasi muda dari pengaruh negatif tetapi juga membentuk mereka menjadi generasi yang memiliki integritas moral dan cinta tanah air yang tinggi. (MARINI/R)