BORNEONEWS, Sampit – Awal tahun 2026 tepatnya di tengah bulan Januari yang biasanya masih diguyur hujan, justru peningkatan titik panas atau hotspot terjadi secara signifikan di berbagai wilayah Kabupaten Kotim.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa cuaca sejak awal tahun ini menunjukkan anomali. Curah hujan yang terpantau harian dianggap tidak signifikan, sehingga memicu kemunculan titik api secara hampir bersamaan di beberapa lokasi.
“Biasanya Januari masih hujan, bahkan ada banjir di beberapa daerah. Tapi tahun ini berbeda, panasnya cukup terasa dan curah hujan minim,” ujar Multazam.
Kondisi tersebut berimbas langsung pada melonjaknya kejadian kebakaran lahan. BPBD Kotim mencatat hingga pertengahan Januari telah terjadi beberapa peristiwa kebakaran, antara lain di Jalan Bawi Jahawen, Jalan Robi, serta Desa Luwuk Bunter. Saat ini sejumlah titik masih dalam proses pendalaman investigasi oleh petugas lapangan.
Data BPBD mencatat sepanjang Januari 2026 tercatat sebanyak 61 hotspot di wilayah Kotim. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan dari tahun ke tahun untuk bulan Januari, angka tahun ini yang paling tinggi. Ini di luar perkiraan kami,” ujar Multazam.
Ia menilai tingginya angka hotspot ini tidak terlepas dari faktor manusia. Ia menegaskan bahwa kebiasaan membuka lahan dengan metode pembakaran menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Kenyataannya, sebagian besar kebakaran terjadi karena pembakaran yang disengaja, biasanya untuk berladang. Kesadaran ini yang harus kita perbaiki bersama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa beberapa kecamatan di Kotim memiliki tingkat kerawanan yang tinggi karena kondisi geografis wilayah yang berupa rawa dan gambut tebal. Kecamatan tersebut antara lain Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Bamang, Kota Besi, dan Cempaga.
“Kalau sudah terbakar di daerah rawa, pemadamannya jauh lebih sulit. Kita tidak ingin pengalaman pahit seperti tahun 2015, 2019, dan 2023 terulang,” pungkas Multazam.
Peningkatan jumlah hotspot ini menjadi peringatan bagi seluruh stakeholder dan masyarakat agar meningkatkan kesadaran dan bersama-sama berupaya mencegah kebakaran hutan dan lahan demi menjaga kelestarian lingkungan di Kotim. (DEVIANA/y)









