BORNEONEWS, Palangka Raya - Membicarakan komoditi sawit rasanya tidak pernah habis-habisnya mengingat komoditi ini merupakan komoditi yang sangat mempesona baik ditinjau dari pandangan ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal ini merupakan pernyataan Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang kepada Borneonews pada Jumat, 23 Januari 2026.
"Dari sisi ekonomi komoditi ini sudah sangat signifikan memberikan kontribusi baik bagi devisa negara atau pertumbuhan ekonomi," kata Rawing.
Daerah-daerah yang mengembangkan sawit, katanya, akan memiliki multiplier efek terhadap pembangunan lainnya, misalnya pertambahan penduduk, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, hotel dan sarana penunjang lainnya.
Demikian juga dari sisi sosial membangun kebun sawit pasti akan melibatkan banyak orang atau tenaga kerja.
"Demikian juga hanya apabila ditinjau dari sisi lingkungan, prinsip dasar membangunnya adalah berkelanjutan, membangun saat ini untuk generasi yang akan datang, karena sawit akan bertahan baik sampai 20-25 tahun, kemudian dapat diremajakan kembai," jelas Dosen Ilmu Pertanian, Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini lagi.
Dengan pemeliharaan, pemupukan dan pembersihan, katanya, sawit akan memberikan hasil atau berproduksi secara optimal.
Lalu bagaimana prospek sawit di tahun 2026 ini. Rawing menuturkan, melihat kecenderungan harga lima tahun terakhir baik harga Tandan Buah Sawit atau TBS dan Crude Palm Oil atau CPO, maka prospeknya cenderung meningkat. Berdasarkan data dari Disbun Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2021 harga TBS sebesar Rp2.344,13/kg sedangkan CPO sebesar Rp10.722,79/ kg. Setiap tahun harganya cenderung meningkat dan pada akhir tahun 2025 harga TBS sebesar Rp3.394,10 /luter sedangkan CPO sebesar Rp12.094, 19/liter.
"Itu berarti dalam kurun waktu 2021-2025 ada kenaikan yg signifikan terhadap harga TBS sebesar Rp1.049,97 dan CPO sebesar Rp3.371,49/ liter," terang Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.
Rawing berharap agar perkembangan sawit ini tetap baik di tengah tekanan politik, ekonomi dan sosial yang semakin kompleks.
"Sawit tetap merupakan komoditi yang nyata menjadi andalan masyarakat, pelaku usaha dan negara yang mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan memberikan devisa bagi negara," tutur Rawing. (TESTI PRISCILLA/Y)









