KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Menjual atau memberikan ponsel pribadi kepada orang lain ternyata menyimpan risiko serius terhadap keamanan data.

Meski perangkat telah melalui proses reset pabrik, bukan berarti seluruh data pribadi benar-benar hilang dan tidak dapat diakses kembali. Hal inilah yang menjadi perhatian banyak pakar keamanan digital dalam beberapa tahun terakhir.

Kasus dugaan pemerasan yang menimpa selebritas Ria Ricis beberapa waktu lalu menjadi salah satu contoh nyata. Ancaman pemerasan senilai Rp300 juta tersebut diketahui berawal dari ponsel miliknya yang sempat diberikan kepada orang lain. Dari perangkat tersebut, pelaku diduga masih dapat mengakses data pribadi berupa foto dan video, yang kemudian dijadikan alat intimidasi.

Peristiwa tersebut membuka mata publik bahwa tindakan reset pabrik pada ponsel belum tentu menjadi solusi aman untuk menghapus seluruh jejak data. Banyak pengguna beranggapan bahwa factory reset akan mengembalikan perangkat ke kondisi awal seperti baru keluar dari pabrik, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Dikutip dari berbagai forum diskusi teknologi, sejumlah teknisi perangkat lunak menjelaskan bahwa data yang dihapus dari ponsel tidak langsung lenyap. Data tersebut umumnya hanya ditandai sebagai ruang kosong yang bisa ditimpa oleh data baru, bukan benar-benar dihapus dari media penyimpanan.

Salah satu teknisi perangkat lunak di Palangka Raya, Agung, menyebutkan bahwa baik sistem Android maupun iOS memiliki karakteristik serupa dalam pengelolaan data.

"Ketika pengguna menghapus file atau melakukan reset pabrik, sistem hanya memberi tanda bahwa data tersebut boleh ditimpa, namun secara teknis masih dapat dipulihkan dengan perangkat lunak tertentu.

Ia menyarankan agar pengguna melakukan penimpaan data terlebih dahulu sebelum melakukan reset pabrik. Penimpaan ini dapat dilakukan dengan mengisi memori ponsel menggunakan file lain, sehingga data lama tertimpa dan tidak dapat dipulihkan kembali.

Penjelasan lain juga disampaikan oleh Andri Abbas yang mengulas struktur penyimpanan pada ponsel Android. Ia menjelaskan bahwa sistem Android memiliki beberapa partisi, terutama partisi sistem dan partisi data atau aplikasi. Data pengguna tersimpan di partisi data yang masih berpotensi diakses jika tidak dihapus secara menyeluruh.

"Sebagai contoh, dalam satu perangkat ponsel, kapasitas penyimpanan bisa terbagi menjadi sekitar 16 GB untuk sistem operasi Android dan lebih dari 40 GB untuk aplikasi serta data pengguna. Meski terlihat kosong setelah reset, ruang tersebut sebenarnya masih menyimpan sisa-sisa data lama," tuturnya.

Kondisi ini menjadi celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab, terutama jika ponsel jatuh ke tangan orang yang memiliki kemampuan teknis memulihkan data. Risiko kebocoran data pribadi pun semakin besar, mulai dari foto, video, hingga informasi sensitif lainnya.

Oleh karena itu, para pakar keamanan digital mengimbau masyarakat agar lebih waspada sebelum menjual atau memberikan ponsel kepada orang lain. Selain melakukan reset pabrik, pengguna disarankan melakukan enkripsi, logout dari seluruh akun, serta menimpa memori dengan data baru guna memastikan data pribadi benar-benar aman.

Meningkatnya kesadaran akan keamanan digital dinilai penting seiring dengan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap perangkat pintar. Langkah pencegahan sederhana dapat menjadi kunci untuk menghindari risiko pencurian data dan kejahatan digital yang merugikan di kemudian hari. (SABRIANOOR/H)