BORNEONEWS, Sampit - Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup di Kotawaringin Timur terus menunjukkan hasil. Melalui Program Adiwiyata, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim mencatat sebanyak 38 sekolah berhasil meraih penghargaan Adiwiyata tahun 2025, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Bagi DLH Kotim, capaian tersebut bukan semata prestasi administratif, melainkan cerminan tumbuhnya budaya pelestarian lingkungan di lingkungan pendidikan. Kepala DLH Kotim, Marjuki, menegaskan bahwa Adiwiyata diharapkan menjadi contoh dan komitmen bersama dalam menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan.
“Adiwiyata bukan sekadar prestasi. Harapan kita, ini menjadi contoh dan komitmen dalam budaya melestarikan lingkungan hidup yang terus tumbuh dan mengakar di satuan pendidikan,” ujar Marjuki dalam rilis diterima pada Minggu, 25 Januari 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung kepada kepala sekolah masing-masing. Dari 38 sekolah penerima, lima di antaranya meraih Adiwiyata Titik Pantau Adipura, tiga sekolah Adiwiyata Mandiri, empat sekolah Adiwiyata Nasional, enam sekolah Adiwiyata Provinsi Kalimantan Tengah, dan 20 sekolah Adiwiyata Kabupaten Kotim.
Meski demikian, Marjuki menyebut jumlah Sekolah Adiwiyata di Kotim masih tergolong kecil. Dari total 596 satuan pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat, sekolah yang meraih Adiwiyata baru sekitar lima persen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus harapan. DLH Kotim menargetkan seluruh satuan pendidikan ke depan dapat menjadi Sekolah Adiwiyata sebagai wujud komitmen bersama dalam pelestarian lingkungan, yang dimulai dari lingkungan sekolah.
Sekolah Adiwiyata diharapkan berperan sebagai agen perubahan, menjadi contoh dan inspirasi bagi sekolah lain dalam menerapkan konsep sekolah ramah lingkungan, termasuk pengelolaan sampah berbasis sumber.
Menurut Marjuki, upaya pelestarian lingkungan melalui pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik dan efektif di semua tingkatan, serta komitmen dan konsistensi seluruh insan pendidikan.
“Perlu komitmen dan konsistensi semua insan pendidikan serta orang tua agar ini bisa berkelanjutan demi terciptanya lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan lestari, yang salah satunya dimulai dari sekolah,” ujarnya.









