PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat (Kobar) memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau dengan memperkuat langkah pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya ini dilakukan dengan menyiapkan sarana prasarana lengkap dan meningkatkan peran masyarakat melalui Program Masyarakat Peduli Api (MPA).

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Reneli, menyatakan pihaknya telah menyiapkan alat-alat penanganan karhutla secara lengkap, serta didukung tim reaksi cepat (TRC) yang cukup untuk merespons kejadian di lapangan.

“Untuk sarana prasarana penanganan karhutla, kita siap dengan alat lengkap dan jumlah anggota TRC yang memadai,” ujar Reneli di Pangkalan Bun, sebagaimana rilis diterima pada Minggu, 25 Januari 2026.

Reneli menambahkan, untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman karhutla, BPBD Kobar telah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa dan kelurahan, khususnya di wilayah yang rawan kebakaran.

“MPA ini berasal dari masyarakat setempat, terutama di daerah yang rentan terjadi karhutla,” katanya.

Dalam kesiapan operasional, Pemkab Kobar telah menyiapkan sepuluh unit mobil suplai air untuk mendukung penanganan kebakaran. Meski demikian, Reneli menyebut masih terdapat kekurangan pada alat yang digunakan oleh MPA dan berharap kebutuhan tersebut dapat segera terpenuhi.

Kejadian karhutla terluas pada bulan ini terjadi pada 18 Januari 2026, di jalur Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama Km 19 dengan luas sekitar 1,50 hektare. Reneli menjelaskan kendala pemadaman pada lokasi tersebut karena akses sulit dijangkau kendaraan dan jarak sumber air yang jauh.

Wilayah pesisir Kecamatan Kumai, Kecamatan Arut Selatan, serta lintas jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama di Kecamatan Kotawaringin Lama disebut sebagai kawasan yang rawan terjadi karhutla.

Dalam penanganan kebakaran, BPBD Kobar bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, serta MPA untuk melakukan pemadaman di lokasi kejadian.

Reneli mengimbau masyarakat Kotawaringin Barat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan segera melapor kepada petugas jika menemukan kebakaran atau potensi karhutla agar bisa segera ditangani.

“Kami mengajak masyarakat untuk bersama mencegah karhutla dengan tidak membakar lahan, serta melaporkan jika ada potensi kebakaran,” ujarnya.