BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih menyisakan duka yang begitu dalam. Longsor yang melanda wilayah ini telah merenggut banyak rumah dan membuat ratusan warga kini hidup di pengungsian, menunggu bantuan yang tak kunjung cukup.
Salah satu korban yang merasakan langsung tragedi ini adalah Wawa (40), warga Kampung Pasir Kuda RW 10. Rumahnya berada di bagian atas area longsor, dan ia harus melihat sendiri bagaimana tanah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya berubah menjadi kubangan material yang menimbun.
Longsor itu terjadi dua kali. Menurut Wawa, kejadian kedua yang paling besar terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Saat itu, kawasan di atas tempat tinggalnya mengalami dampak paling parah. Banyak rumah warga hilang dan rata dengan tanah, termasuk rumah milik keluarga jauhnya.
“Anggota keluarga saya yang hilang ada lebih dari 10 orang. Sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” ujarnya dengan suara bergetar, Minggu, 26 Januari 2026.
Suasana mencekam juga terasa di bagian bawah lokasi longsor, yang terdampak cukup serius. Saat longsor kedua berlangsung, warga yang mendengar gemuruh langsung berteriak ketakutan.
“Waktu dengar gemuruh yang kedua, banyak yang menjerit. Saya langsung kabur menyelamatkan diri,” ungkap Wawa.
Ia akhirnya berhasil mengungsi ke desa sekitar pukul 05.00 WIB bersama warga lainnya, mencari tempat yang lebih aman. Namun, di tempat pengungsian, kebutuhan mereka masih jauh dari terpenuhi.
Wawa menyebutkan bahwa jumlah pengungsi saat ini diperkirakan lebih dari 100 orang, namun bantuan kebutuhan makan baru diterima satu kali dan hanya ditambah dengan distribusi makanan ringan pada siang hari.
Bagi para pengungsi, kebutuhan yang paling mendesak bukan hanya makanan. Wawa menekankan kebutuhan perlindungan bayi yang sangat krusial, seperti pakaian bayi, popok, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Kalau untuk orang dewasa, kebutuhan utamanya alat mandi, makanan, dan penghangat badan seperti selimut, matras, serta jaket,” jelasnya.
Para pengungsi berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan percepatan penanganan korban hilang.
Di sisi lain, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Barat, Bambang Imanudin, menyampaikan bahwa pihaknya akan berupaya memenuhi bantuan yang diperlukan oleh warga. Ia menyebut bahwa bantuan yang paling dibutuhkan adalah matras, selimut, dan sembako, karena para pengungsi masih berada di lokasi pengungsian.
“Kami akan memenuhi bantuan yang paling dibutuhkan warga saat ini, seperti matras, selimut, dan sembako karena mereka masih berada di lokasi pengungsian,” jelasnya.
Bambang juga berharap semua logistik dapat tercukupi, termasuk bantuan dari pemerintah provinsi yang sudah mulai masuk.
Sementara itu, upaya pencarian masih terus berlangsung. Tim Gabungan masih mencari korban hilang yang diperkirakan sebanyak 82 jiwa hingga saat ini.
ANTARA









