SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Di balik gerakannya yang anggun dan irama gong yang mengalun, Tari Manasai menyimpan filosofi mendalam tentang harmoni, persatuan, dan keseimbangan hidup yang menjadi landasan nilai budaya masyarakat Dayak. 

Pemilik sekaligus pengajar Sanggar Seni Penyangsangkalemu Sampit, Dody Eka  menegaskan bahwa tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol kehidupan yang terus mengajarkan keharmonisan antarmanusia dan lingkungan.

“Filosofi Manasai adalah tentang keharmonisan hidup. Semua akan kembali, anugerah dari Ranying Hatala Langit agar kita hidup seimbang di dunia yang terus berputar, tetapi tetap berpijak pada satu poros dan satu kesatuan,” tuturnya, Minggu, 25 Januari 2026.

Keindahan filosofi tersebut dipantulkan dalam gerakan tari yang melingkar dengan langkah tambalik baju berputar berlawanan arah dan diiringi gerakan tangan lemu lembai yang lembut.

Lingkaran Manasai melambangkan kesetaraan dan persatuan tanpa ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. 

“Di mana kita berasal, di situ pula kita kembali. Di mana kita menabur, kelak di situ pula kita menuai. Karena itu manusia harus hidup bersatu dan harmonis,” tambahnya.

Tari Manasai memiliki daya tarik tersendiri karena kesederhanaan gerakannya yang mudah dipelajari dan dinamis, sehingga dapat dinikmati dan dipraktikkan oleh berbagai kalangan usia. Hal inilah yang menjadikan Tari Manasai kerap dimainkan secara massal dalam acara adat maupun kegiatan formal sebagai simbol kebersamaan dan kelestarian budaya.

Sanggar Seni tersebut secara konsisten memasukkan Tari Manasai dalam berbagai acara resmi, menjadikannya penutup seremonial sekaligus media pembumian nilai persatuan dan kebersamaan di kalangan masyarakat.

Meski demikian, Dody mengakui tantangan pelestarian tarian ini di era modern sangat besar, terutama karena maraknya media sosial. 

“Banyak yang belajar Manasai hanya satu tarian jadi dari YouTube, tanpa memahami maknanya. Ini cukup meresahkan karena bisa mengaburkan identitas dan pakem tarian,” ujarnya prihatin.

Ia menekankan pentingnya inovasi dalam seni tari, namun harus dengan pijakan gerakan Manasai agar tidak kehilangan jati diri.

“Inovasi boleh, tapi pijakannya tetap Manasai. Gerakan lemu lembai dan langkah tambalik baju harus tetap menjadi identitas,” tegas Dody.

Dody mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk aktif melestarikan Tari Manasai melalui dokumentasi, pengenalan, dan pembudayaan seni ini.

“Lestarikan sebelum punah. Hidup dengan seni sampai seni itu bisa menghidupimu, karena kehidupan tidak akan bermakna jika kita tidak memahami seninya,” pungkasnya dengan penuh harapan.

Dengan semangat ini, Tari Manasai bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi penguat nilai kehidupan harmonis yang relevan di zaman modern, menyatukan masyarakat dalam cinta dan rasa hormat terhadap warisan leluhur. (DEVIANA/j)