BORNEONEWS, Palangka Raya – Desember seakan menjadi bulan angker di jalanan Palangka Raya. Belum sampai pertengahan tanggal, bulan penghujung tahun 2016 ini telah menelan tujuh korban meninggal dunia akibat kecelakaan.
Kapolres Palangka Raya AKBP Lili Warli menyimpulkan bahwa faktor kecelakaan terjadi lebih besar pada sisi human error. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil kronologi kejadian sejak awal hingga terjadinya titik tabrakan.
“Iya, kebanyakan akibat human error,” ucap Lili Warli kepada wartawan, Selasa (13/12/2016).
Sebagai bukti, berikut catatan Borneonews. Pertama, terjadi di Jembatan Kahayan, Jumat (2/12/2016) sekitar pukul 17.30 WIB lalu. Insiden tersebut menewaskan sepasang suami istri Ahmad Anwar dan Andi Rafdaboneyanti. Ahmad tewas di lokasi kejadian dengan posisi di jembatan, sedangkan istrinya dalam perjalanan ke rumah sakit meskipun ia terpental dan jatuh ke bawah jembatan dengan ketinggian sekitar lima meter.
Dalam kejadian ini, polisi menetapkan sopir mobil boks D 8188 PT yang dikemudi, Didik Purnomo, sebagai tersangka. Sebab, pada saat Didik Purnomo meluncur dari arah Palangka Raya - Bukit Rawi mendadak ngerem hingga membanting stir ke kanan. Akibatnya memakan jalur lawan. Korban yang kala itu bersama istri berkendara Mio KH 5080 TR dari arah berlawanan, lantas kaget. Karena jarak sudah dekat, tabrakan tak terhindarkan.
Kedua, terjadi di Jalan Tingang Induk, Senin (5/12/2016) sekitar pukul 06.30 WIB. Insiden itu melibatkan motor V-xion KH 6205 JG yang dikemudi siswa SMA, berinisial RW, 17, warga Jalan Tingang XVII dan motor Revo KH 3825 TB, dikemudi Banjar Samudin (59) warga Jalan Banteng Induk.
RW meninggal dunia di rumah sakit malam harinya setelah sempat mendapatkan perawatan tim medis. Dalam insiden ini, bermula ketika RW meluncur di Jalan Tingang dari arah Jalan Merdeka menuju Jalan Bukit Kaminting. Sesampainya di Jalan Tingang dekat simpang Jalan Tingang - Bukit Kaminting, dari arah depan (searah) tiba-tiba pengendara Revo itu berputar arah tanpa memperhatikan pengendara yang ada di belakangnya. Akibatnya tabrakan terjadi.
Ketiga, terjadi di Jalan Mahir Mahar atau sekitar 1,5 kilo meter dari pertigaan Jalan Tjilik Riwut Km 10, Selasa (6/12/2016) sekitar pukul 05.45 WIB. Insiden tersebut menewaskan anggota Yonif 631 Antang, Prada M Julfadli. Yakni usai bertabrakan dengan mobil Avanza warna putih KH 1289 T, yang dikemudi Noto Harianto, 33, warga Jalan Parenggean, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Menurut keterangan Noto, peristiwa bermula ketika dia meluncur di Jalan Mahir Mahar dari arah Sampit menuju Banjarmasin dengan maksud hendak mengantar keluarganya berbelanja. Sedangkan korban dari arah sebaliknya.
Mendekati lokasi kejadian, dia melihat Julfadli mendahului pengendara yang ada di depannya. Pada saat itu pula juga terdapat ranting pohon yang rubuh dan mengenai bahu jalan. Pengendara yang disalipnya itu juga menghindari pohon tersebut. Sehingga, Zulfadli terlalu mengambil jalur lawan dan tabrakan terjadi.
Keempat, menewaskan seorang siswi sekolah menengah kejuruan (SMK), Yuniae Lurie (17 tahun). Warga Jalan Mendawai 1 Palangka Raya itu tewas seketika setelah mengalami kecelakaan di simpang empat, Jalan Wortel, Jumat (9/12/2016). Lawannya adalah sebuah mobil Avanza KH 1036 AV.
Kelima, terjadi pada Sabtu (10/12/2016)sekitar pukul 18.15 WIB. Korban bernama Alfonsius Dabul Jaya (21 tahun), warga Jalan Manjuhan. Bermula ketika korban berkendara dari arah Kasongan menuju Palangka Raya. Pada saat itu, cuaca sedang hujan sedangkan korban diduga melaju dengan kecepatan tinggi.
Sesampai di TKP, jalan licin ditambah adanya genangan air membuat motor Revo KH 6885 TQ yang dikemudi korban, mendadak slip atau lepas kendali. Akibatnya, korban terjungkal ke badan jalan hingga meninggal dunia di lokasi kejadian.
Terakhir, terjadi di Jalan Tjilik Riwut Km 16, Minggu (11/12/2016) sekitar pukul 14.30 WIB. Kali ini antara motor versus mobil. Korbannya adalah Olmes Satemu, warga Jalan Tjilik Riwut Km 8. Pria 36 tahun itu tewas di tempat dengan kondisi kepala pecah hingga mengakibatkan otak terbuai. Diduga, pecahnya kepala korban itu akibat terlindas mobil.
Informasi yang dihimpun Borneonews, bermula ketika korban meluncur dari arah Kasongan - Palangka Raya dengan menggunakan motor Spacy KH 4025 AM. Di tengah kondisi hujan dan jalan licin, korban jatuh. Kemudian posisinya berada di jalan lawan.
Tak berselang lama, sebuah mobil Innova KH 1943 AD, dikemudi Angga meluncur dari arah berlawanan. Karena jarak sudah begitu dekat ditambah kecepatan berkisar 80/km per jam, Angga tidak mampu lagi menghentikan laju mobilnya. Akibatnya, kepala korban terlindas dan tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan.
“Oleh sebab itu, saya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar dalam mengendarai motor harus senantiasa hati-hati dan waspada, serta jangan sampai lepas kontrol. Kemudian jangan sampai mengantuk, bila mengantuk segera beristirahat,” pesan Kapolres. (BUDI YULIANTO/m)
Aparat Polres Palangka Raya hendak mengevakuasi jasad anggota Yonif 631 Antang, Prada M Julfadli yang tewas akibat tabrakan dengan Avanza di Jalan Mahir Mahar, atau sekitar 1,5 km dari pertigaan Jalan Tjilik Riwut Km 10, Selasa (6/12/2016) sekitar pukul 05.45 WIB. BORNEONEWS/BUDI YULIANTO








