BORNEONEWS, Sampit – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit saat ini tercatat menangani 148 pasien penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).
Dari jumlah tersebut, sekitar 80 pasien secara rutin menjalani pengobatan, dengan sebagian besar berasal dari kelompok usia produktif.
"Berdasarkan data terakhir, jumlah pasien HIV/AIDS yang terdata sebanyak 148 orang, dan sekitar 80 pasien masih rutin kontrol serta menjalani terapi," kata Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hermawan, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan profil pasien, mayoritas penderita berada pada rentang usia 25 hingga 49 tahun, usia produktif. Berdasarkan hasil penelusuran, pola penularan paling dominan terjadi melalui hubungan seksual.
Lanjutnya, layanan penanganan HIV/AIDS di RSUD dr Murjani dibuka setiap hari, baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap, guna memastikan keberlangsungan terapi bagi para penderita.
Namun demikian, ia menyebut jumlah pasien yang menjalani pengobatan di RSUD dr Murjani mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini bukan disebabkan menurunnya kasus, melainkan karena layanan pengobatan HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini semakin tersebar dan merata.
"Saat ini pengobatan HIV/AIDS tidak hanya terpusat di RSUD dr Murjani. Sudah ada layanan di RS Pratama Parenggean, Puskesmas Ketapang I, dan Puskesmas Baamang II. Pasien yang ingin pindah, kami arahkan ke fasilitas kesehatan terdekat," ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa pasien yang berasal dari Kabupaten Seruyan juga telah dialihkan untuk melanjutkan pengobatan di wilayah asal masing-masing, sehingga pelayanan tidak lagi terfokus di Sampit.
Lebih lanjut, dr Iman menjelaskan, banyak kasus HIV/AIDS baru terdeteksi ketika pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan tertentu yang kemudian mengarah pada pemeriksaan HIV/AIDS. Padahal secara medis, virus HIV sebenarnya sudah bisa terdeteksi sekitar tiga bulan setelah terpapar, meski gejala klinis kerap baru muncul satu hingga lima tahun kemudian.
"Tidak sedikit penderita yang bertahun-tahun tidak merasakan gejala. Bahkan ada kasus pasangan yang lebih dulu sakit dan meninggal, baru kemudian diketahui pasangannya juga terinfeksi," tambahnya.
Terkait pengobatan, ia menegaskan HIV/AIDS belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan terapi yang dijalani secara rutin, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan hingga berada di bawah ambang batas tertentu.
"Jika viral load di bawah 5.000 kopi, kondisi pasien dianggap terkendali. Mereka bisa menjalani hidup normal, tetapi obat harus diminum seumur hidup. Jika terapi dihentikan, virus bisa kembali aktif," katanya.
Ia juga menyoroti perbedaan pola penularan HIV/AIDS di Kotim dibandingkan daerah lain seperti Pulau Jawa. Jika di beberapa wilayah kasus banyak dipicu penggunaan jarum suntik narkoba, di Kotim penularan justru lebih dominan akibat perilaku seksual berisiko, baik heteroseksual maupun homoseksual.
"Oleh karena itu, edukasi dan upaya pencegahan harus terus diperkuat agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami risiko penularan dan menerapkan perilaku hidup sehat," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









